Tradisi Njamu Kiaji


Foto-foto: dok/Pagaralam Pos DARI TANAH SUCI: 109 orang jemaah haji ketika tiba di kota Pagaralam, sepekan lalu. Kedatangan para tamu Allah ini disambut langsung oleh Wako Pagaralam Hj Ida Fitriati.
Foto-foto: dok/Pagaralam Pos
DARI TANAH SUCI: 109 orang jemaah haji ketika tiba di kota Pagaralam, sepekan lalu. Kedatangan para tamu Allah ini disambut langsung oleh Wako Pagaralam Hj Ida Fitriati.

PAGARALAM POS, Pagaralam- Musim haji 2016 sudah berakhir. Ini ditandai dengan kembalinya jemaah haji ke kampung halaman masing-masing. Di kota Pagaralam, kedatangan para tamu allah ini disambut dengan tradisi menjamu haji. Dalam besemah disebut dengan njamu kiaji.

Anggota Lembaga Adat Besemah, Satarudin Tjik Olah menyatakan, njamu kiaji merupakan tradisi yang sudah ada sejak lama berkembang di tengah masyarakat Besemah. “Dalam masyarakat besemah, tradisi njamu kiaji pasti ada,”ucap Satar, ketika dijumpai Pagaralam Pos, di kediaman pribadinya, simpang Dusun Petani, kemarin, (30/9).

Dijelaskannya, njamu kiaji njamu memiliki makna yang dalam. Di antaranya sebut Satar sebagai wujud penghormatan dan kegembira. Hormat karena yang bersangkutan selesai menunaikan salahsatu rukun Islam. Gembira karena yang bersangkutan tiba di kampung halaman dalam keadaan sehat tak kurang suatu apapun. “Ini juga sesuai dengan hadist Nabi Muhammad SAW. Yakni, sambut dan peluklah sahabatmu yang pulang dari pelayaran,”tambah Satar.

Dipaparkan, njamu kiaji dilaksanakan ketika haji tiba di kediamannya. Untuk waktunya sebut Satar berbeda-beda. Ada yang melaksanakannya ketika sepekan haji itu pulang. Ada pula yang melaksanakannya lebih cepat dari itu. “Njamu kiaji bisa dilaksanakan di rumah ataupun di masjid. Tapi, yang paling sering di dalam masjid,”sambungnya.

Karena itu, seorang haji harus selalu siap untuk diundang untuk datang. Baik itu ke masjid ataupun ke rumah. Baik itu menghadiri undangan di dalam masjid di kampungnya sendiri maupun di dusun lain. “Tapi, umumnya, jadwal undangan itu harus ditentukan oleh haji. Tujuannya agar tidak berbenturan dengan jadwal undangan di tempat lain,”bebernya.

Sang haji yang diundang pun tak perlu khawatir soal ongkos transportasi. Sebab, menurut Satar, pada umumnya, bila undangan itu datang dari dusun lain, maka yang mengundang akan memberikan ongkos.

Berbagi Pengalaman dan Memberikan Doa

Njamu kiaji bukan hanya sekedar makan-makan. Tapi, lebih dari itu. Dipaparkan Satar, ketika berada dalam jamuan, seorang haji biasanya menceritakan pengalamannnya kepada hadirin. “Diceritakannya saat berhaji. Tujuannya, agar warga yang belum berhaji bisa belajar dari pengalaman itu,”jelasnya.

Dalam jamuan itu juga, seorang haji juga menyampaikan doa kepada Allah SWT. Intinya, agar para hadirin (yang belum berhaji), bisa melaksanakan haji seperti dirinya. “Jadi, makna njamu kiaji ini sangatlah tinggi,”sebut Satar.

Satar yakin, tradisi njamu kiaji akan terus lestari, meskipun zaman terus berganti. Selagi masih ada yang menjalankan ibadah haji kata Satar, tradisi njamu kiaji akan terus ada. “Memang, bentuknya saja yang bisa berubah,”imbuhnya.

Undangan njamu kiaji akan terus berdatangan kepada seorang yang baru saja menunaikan ibadah haji. Ketika selesai menunaikan semua undangan itu kata Satar, haji yang bersangkutan akan melaksanakan syukuran. “Syukuran sebagai bentuk ucapan syukur kepada Allah karena sudah selesai menunaikan ibadah haji yang masuk ke dalam rukun Islam ke-lima,”jelas Satar.

Sementara itu, data yang dihimpun Pagaralam Pos, pada musim haji tahun ini, kota Pagaralam memberangkatkan sebanyak 109 orang CJH. Mereka tergabung dalam kloter Kloter 07 Embarkasi Palembang. Pada Minggu lalu (25/9), mereka tiba kembali ke kota Pagaralam dengan menyandang status haji. (11)

#Baca berita selanjutnya….terbit 1 oktober 2016#

Previous 4 Bulan Bebas, Edwar Kembali Dibekuk
Next Etiam ut orci euismod posuere turpis et mollis