Rahasia Kitab Kaghas Besemah yang Ditakuti Belanda



Foto-foto: Dok/Pagaralam Pos
RATUSAN TAHUN: Kitab Kaghas merupakan warisan leluhur yang berisikan aneka macam pengetahuan

PAGARALAM POS, Pagaralam – Masyarakat Besemah dari dulu sudah mengenal budaya tulis menulis. Ini dibuktikan dengan adanya kitab Kaghas. Ini merupakan sebuah buku kaya informasi yang sangat ditakuti penjajah kolonial belanda di masanya. Sementara di masa setelahnya, kitab Kaghas sempat diperjualbelikan.




Anggota Lembaga Adat Besemah, Satarudin Tjik Olah mengatakan, kitab Kaghas sudah berumur lebih dari ratusan tahun. “Sekitar tahun 1500-an kitab Kaghas sudah ada di Besemah ini,” ucap Satar, saat ditemui Pagaralam Pos, di kediamannya, kemarin (6/1).




Dilanjutkan Satar, kitab Kaghas dibuat dengan menggunakan bahan baku yang alami. Sebabnya, zaman dulu belum ada kertas, tinta dan pena seperti zaman sekarang. Untuk media kertas misalnya, disebutkan Satar, merupakan kulit kayu Kaghas. Ini merupakan sejenis kayu yang terkenal memiliki kulit berserat yang kuat dan tahan lama. “Inilah alasan mengapa namanya kitab Kaghas,” sambung Satar.




Kaghas yang bentuknya mirip pohon bambang itu ditebang lantas diambil kulitnya. Kulit kayu Kaghas dipotong memanjang, dengan lebar sekira tiga jari saja, alias tiga cm. Kulit kayu ini lantas dikeringkan. Di atas kulit kayu ini lalu ditulisi dengan menggunakan huruf ulu. “Tintanya dari getah kayu juga,” bebernya.




Untuk penanya juga masih alami. Pena atau zaman dulu disebut dengan kalam, dibuat dari pelepah bagian dalam enau. “Pelepah bagian dalam enau diambil. Dibentuk runcing mirip pena,” ucap Satar.




Lebih lanjut dikatakan, selain dari kulit kayu, media penulisan zaman dulu ada juga yang menggunakan kulit luar dan dalam bambu bulat. Sama seperti kulit Kaghas, kulit dalam dan luar bambu juga memiliki daya tahan yang tinggi. Prosesnya, bambu bulat dibelah, lalu bagian dalamnya ditulisi dengan huruf uluan.




Dijelaskan Satar, buku Kaghas merupakan media para pendahulu untuk menyampaikan informasi kepada anak cucunya. Tujuannya, agar informasi tersebut tidak hilang setelah mereka tidak ada lagi. “Zaman dulu belum ada buku. Jadi, di buku kaghas-lah, para pendahulu menuliskan segala macam informasi,” tuturnya.




Strategi Perang Hingga Mantra
Lalu apa yang ditulis di atas kulit Kaghas dan bambu itu? Satar menyebutkan, di dalam kitab Kaghas memiliki beragam informasi. Di antaranya papar dia, strategi perang, mantera-mantera alias jampi-jampi, cara bercocok tanam dan tuah ayam.




“Kitab kaghas di tiap dusun isinya beda-beda. Tapi, yang pasti, informasi tentang tuah ayam, pasti ada,” jawab Satar, yang sempat membaca beberapa kitab kaghas ini. (Mengenai isi jampi-jampi, lihat tabel)




Karena berisikan strategi perang itulah, diakui Satar, membuat kitab kaghas sangat ditakuti penjajah kolonial belanda. Penjajah kolonial takut sekali strategi perang itu dibaca oleh jeme Besemah. “Penjajah belanda khawatir jeme Besemah saat itu memberontak,”tuturnya.




Beragam cara pun dilakukan penjajah belanda guna menjauhkan jeme Besemah dengan kitab kaghas. Salahsatu contoh yang masih diingat Satar adalah memberikan doktrin sesat kepada warga. “Dibilang bahwa untuk membuka kitab kaghas itu harus lebih dahulu nyembelih kebau (menyembelih kerbau),” katanya. “Padahal, aturan itu tidak ada sama sekali,” ucapnya pula.




Keberadaan kitab kaghas sendiri turut menarik perhatian para peneliti dari dalam dan luar Pagaralam. Bahkan kata Satar, pada 1950-an, ada peneliti dari luar negeri seperti Belanda dan Jepang datang ke Besemah untuk meneliti kitab kaghas. Sayangnya ungkap dia, para peneliti asing tersebut bukan hanya meneliti, tapi juga berniat untuk membeli kitab kaghas. “Beberapa pewaris ada yang akhirnya terbujuk rayu dan menjual kitab kaghasnya,” ucapnya.




Maka, tak perlu heran bila saat ini kita mendengar bahwa di Belanda dan Jepang ada kitab kaghas. Ini merupakan hasil pembelian para peneliti kepada warga. “Ada membeli langsung, ada lewat perantara,” imbuh Satar.




Syukurlah, beberapa kitab kaghas masih tersimpan rapih di dalam rumah-rumah warga. Kamis lalu (5/1), Pagaralam Pos menemui pewaris kitab kaghas di dusun Pengaringan, kecamatan Dempo Tengah. Kitab kaghas di sini masih tersimpan rapi.




Kitab kaghas ini kata pewarisnya, merupakan peninggalan pendahulunya. Dia sendiri merupakan pewaris generasi ketujuh. Yang unik, selain dari getah kayu, tinta untuk menulisi kitab kaghas ini ada yang terbuat dari darah.




Selain di dusun Pengaringan, kitab kaghas juga tersimpan rapi di rumah Ketua PDM Muhammadiyah, H Dimyati Rais, alias H Pandim. Menurut Pandim, kitab kaghasnya memiliki isi berbagai macam. “Strategi perang pun ada,” ucap Pandim.




Satar memastikan, bahwa lembaga adat Besemah sudah berupaya keras agar kitab kaghas tidak punah. Salahsatu caranya adalah dengan mengajarkan anak-anak muda tentang Huruf Uluan. Diharapkan, setelah menguasai huruf uluan anak-anak muda tersebut bisa membaca kitab kaghas. “Kitab kaghas tak hanya harus dilestarikan. Tapi juga harus dipahami dengan cara dibaca,” terang Satar. (11/CE-V)

Previous Hebatnya Ghumah Baghi Besemah Tahan Gempa, Berbentuk Perahu, Kaya Motif
Next Masih Banyak Program Belum Tuntas