Mengenal Tunil, Opera van Besemah


Foto-foto: Repro/dok/Pagaralam Pos
KOCAK: Pementasan tunil dalam acara pagelaran budaya besemah di balaikota pagaralam pada 2015 lalu.

Bukan Sekedar Lawakan

Bila di Surabaya ada ludruk, maka di Besemah ada tunil. Ya, tunil bolehlah disebut ‘Opera Van Besemah’. Sebuah seni yang bertujuan bukan sekedar untuk menghibur. Tunil bisa lebih dari sekedar lawakan.




MEREKA langsung tertawa terbahak-bahak manakala melihat Kasim berjalan pelan setengah berjinjit memasuki panggung utama. Penyebabnya tak lain karena penampakan seorang Kasim yang aneh. Dibilang perempuan iya, laki-laki juga iya. Kostum yang dikenakan Kasim berupa baju kurung plus kerudung di kepala membuat penampilannya mirip seorang kerbai (ibu-ibu). Tapi, kostum ini tak dapat menutupi jenggot panjang yang sudah memutih menggantung di dagu Kasim plus kumis tebal di atas bibirnya.




Hari itu, pada 2015 lalu, di balaikota Pagaralam, penampilan Kasim itu memang sengaja dibuat untuk mengocok perut. Di sana, dia bersama sekitar 12 orang lainnya mementaskan tunil-sejenis lawakan khas Besemah. “Memang harus demikian. Kalau bisa, sebelum kita bicara, orang sudah tertawa,”ujar Kasim menjelaskan soal tunil, kepada Pagaralam Pos di kediamannya di Dusun Pagar Gading Kecamatan Pagaralam Utara siang kemarin (2/1).




Dalam pementasan di Balaikota itu, Kasim dan kawan-kawan menampilkan tunil dengan judul ‘Ragam Perjake’. Ini merupakan sebuah pementasan tunil yang mengangkat cerita tentang tata cara beghusek dan begareh bujang dengan gadis di Besemah tempo dulu. Tentu pementasan ini dikemas sedemikian rupa buat menghibur. “Bagaimana caranya harus membuat penonton tertawa,”ucap Kasim, yang kini berusia 69 tahun itu.




Adapun penontonnya berasal dari berbagai kalangan di antaranya pelajar, mahasiswa, pelaku seni budaya, tokoh masyarakat, pejabat, hingga warga biasa. Maka, balaikota hari itu terasa sempit untuk menampung orang yang jumlahnya berbilang banyaknya itu. Koor tawa beberapa kali terdengar memenuhi ruangan itu. Beberapa kali terdengar tawa saling bersahut-sahutan.




Kembali ke adegan ketika Kasim memasuki panggung utama. Kasim yang disetting sebagai seorang penasehat itu mulai melancarkan petuahnya dengan bahasa Besemah kental. “Luk inilah care kami di dusun,”ujarnya kepada seorang lelaki berpenampilan necis di depannya. Lelaki yang mendapatkan petuah nampak tak terima dan tetap pada pendiriannya.




Diceritakan, lelaki bernampilan necis yang kemana-mana selalu menenteng handphone besar itu baru saja pulang dari Jakarta. Dia tinggal di ibukota selama dua malam lalu balik lagi ke dusunnya. Nah, suatu malam lelaki mendapati sebuah rumah-setting-nya di atas panggung utama-bujang gadis sedang begareh. Lelaki itu menyindir bahwa di Jakarta tak ada yang namanya begareh. Gaya bicara lelaki necis ini yang mencampur adukan antara Bahasa Besemah dengan slank semacam loe, gue dan sebangsanya itu, tak urung menuai tawa para penonton. Sekali lagi, ruangan balai heboh.




Pementasan yang berdurasi kurang lebih 20 menit itu disebut Kasim sukses. Indikatornya, para penonton dapat tertawa dari awal sampai akhir pementasan. “Iya. Penilaiannya ada pada penonton. Kalau penonton tidak tertawa semakali, artinya itu (tunil) sukses,”kata dia membenarkan. Namun, ditekankan Kasim, penonton dapat tertawa lantaran lawakan benar-benar alami, bukan dibuat-buat. “Beda antara tertawa lepas dengan cacak tetawe (pura-pura tertawa) yang terkesan dipaksakan,” kata lelaki kelahiran 19 September 1949 ini.




Namun, tunil yang dipentaskan Kasim dkk pada hari itu bukan hanya semata-mata untuk mengocok perut. Kasim mengakui, bahwa tunil di Balaikota Pagaralam pada 2105 itu, memilik tujuan luas yang boleh dikatakan semacam kritik sosial. Diangkatnya tema ini lantaran Kasim dkk menganggap budaya begareh itu sudah tergerus oleh modernisasi. Tentu saja jalannya cerita dibuat sedemikian rupa. Arus moderinisasi itu diperankan seorang pemuda dusun yang belum lama merantau ke ibukota tapi sudah lupa dengan budaya sendiri. “Seorang yang baru dua malam tinggal di Jakarta, eh ketika pulang kampung, tiba-tiba lupa dengan begareh. Padahal begarehan adalah budaya kita besemah yang mengatur tata krama antara bujang dengan gadis,”ujar kakek sembilan orang cucu itu.




Tapi, diakui Kasim, adakalanya tunil dipentaskan dengan tujuan untuk lawakan semata, tak ada tujuan yang pasti. Tunil semacam ini disebutkannya, dipentaskan dalam acara selingan di sebuah persedekahan. Asmadi-seorang pemerhati dan penggali budaya Besemah- baru-baru ini, melihat secara langsung pementasan tunil di sebuah acara resepsi persedekan di suatu desa di Kecamatan Tanjung Sakti Kabupaten Lahat. “Ditampilkan persis setelah do’a, ya semacam acara hiburan begitu,”ujar Madi Lany-sapaan akrabnya-saat ditemui Pagaralam Pos di kediamannya di kawasan Gang Rukun, Nendagung Kecamatan Pagaralam Selatan kemarin.




Menurut Mady, tunil yang dipentaskan di sebuah acara resepsi pernikahan di Tanjung Sakti itu diamainkan sebanyak empat orang wanita. Empat wanita ini memainkan peranannya yang masing-masing. “Ada yang berperan sebagai lelaki dewasa yang hobi membawa ayam jago,”ujarnya. Adapun isi cerita adalah menyangkut kehidupan warga sehari-hari. Berdasarkan pengamatannya, kata Mady, tunil yang dipentaskan selama kurang lebih setengah jam itu sukses membuat para undangan yang memadati tenda terbahak-bahak. “Setelah tunil, dilaksanakan hiburan lain, yakni gurita,” katanya.

Diawali Gladi Resik, Mental Harus Kuat

BUKAN perkara gampang untuk mementaskan tunil. Ibarat sebuah upacara bendera, maka sebelum digelar, para pemain tunil harus melaksanakan gladi resik dulu. “Latihan dulu. Waktunya bisa seminggu sebelum tunil digelar,” ujar Kasim yang karena memelihara jenggot panjang, sering disapa Kasim Janggut.




Dalam latihan itu, dilanjutkan Kasim, materi tunil yang akan dipentaskan dibahas secara bersama-sama. Bila sepakat dengan materi pementasan, barulah para pemain berbagi tugas dan peranannya masing-masing. “Supaya benar-bersiap ketika nanti berada di atas panggung,”kata dia menjelaskan mengenai tujuan latihan.




Selain itu, ditambahkan Kasim yang sudah puluhan kali bertunil ini, mental para pemain harus dipastikan benar-benar kuat. Ini supaya nanti pada saat tampil, tidak terjadi kesalahan gegara ‘demam panggung’. Satu pemain saja grogi, kata Mady, dapat membuat skenario tunil menjadi berantakan. Kasim mengaku pernah mendapatkan pengalaman buruk gegera ada pemain yang grogi.




Karena itulah, berdasarkan pengalaman itu, Kasim menyatakan, untuk dapat ikut tunil, selain bakat, salahsatu syaratnya adalah memiliki mental yang kuat. Jeme pemalu ujar Kasim, tak cocok untuk ikut tunil. “Pemanis sabe (pemalu) tidak akan bisa membuat tunil menjadi berbobot,”ujar dia. “Dalam pementasan itu tiap pemain harus memiliki inisiatif sendiri untuk membuat cerita menjadi hidup. Ini hanya dimiliki orang yang bermental kuat,”katanya pula.




Mady Lani mengakui tidak mudah untuk menampilkan tunil. Kata dia, dibutuhkan mental dan bakat, kemauan keras para pemain untuk berlatih sangat dibutuhkan. “Skenario itu sebenarnya panduan saja. Di panggung, harus ada inisiatif dari pemain sendiri,”sebut Kasim yang mengaku bertunil sejak masih bujangan.

Sama tapi Berbeda

SEJAK kapan tunil ditasbihkan sebagai nama untuk sebuah pementasan lawak? Tidak ada yang tahu persi. Tapi, Kasim Janggut memastikan, di Besemah, sejak dulu pementasan lawak disebut dengan tunil. “Semacam lawakanlah,” ujar Kasim yang menjabat sebagai Ketua Yayasan Dempo Lestari. “Boleh dibilang Opera Van Besemah,” kata Mady. Mady menduga, tunil besemah pertamali digunakan di tengah kesibukan petani memanen padi. Tunil digunakan untuk hiburan mengisi sela-sela waktu istirahat.




Apakah sama dengan ludruk dari Surabaya? Kasim mengatakan, tunil, dul mulik, dan ludruk memang memiliki kesamaan yakni sama-sama untuk mengocok perut lantara ulah para pemainnya yang jenaka. Tapi, kadangkala, di suatu sisi, ketiganya memiliki perbedaan. Kasim yang pernah merantau di Surabaya mengatakan, dari segi tujuan, ludruk merupakan sejenis lawakan yang muatannya banyak berupa kritik sosial dan politik. Tentu percakapan antar pemain dalam ludruk memakai Bahasa Jawa.




Kasim sendiri, di masa mudanya sudah banyak tampil dalam setiap pementasan tunil. Satu pementasan yang masih diingatnya sampai kini ialah di sebuah dusun di kawasan impit bukit-sekarang masuk Kabupaten Lahat. Saat itu, Kasim yang berusia 18 tahunan, mementaskan tunil bersama empat orang kawannya di sebuah acara persedekahan. Tunil jadi pilihan sebagai hiburan lantaran masa itu, organ tunggal belum masuk. Seingat Kasim yang mengaku memiliki bakat turun-temurun bertunil ini, pementasan Tunil ketika itu lumayan menghibur para penonton.




Kini, di usianya yang tak lagi muda, Kasim masih konsisten untuk tampil di dalam tunil. Penampilannya di Balaikota Pagaralam pada 2015 lalu itu, adalah yang terakhir. Sejak itu sampai sekarang, dia mengaku belum pernah mementaskan tunil lagi. Tapi dia masih menyimpan asa untuk kembali tampil mementaskan tunil. “Saya ingin tunil besemah bisa ditampilkan di acara televisi-televisi,” kata dia bersemangat.




Sayangnya, mementakan tunil bukan hanya dibutuhkan latihan yang panjang serta para pemain yang handal saja. Lebih daripada itu, disebutkan Kasim, dibutuhkan dana yang tak sedikit. Misalkan saja dicontohkannya untuk honor para pemain mulai dari latihan sampai dengan pelaksanaan. “Kalau pemerintah mau membantu, saya siap untuk mengumpulkan para pemain tunil,”kata Kasim. (11)

Previous Pagi Ini, Tim Gabungan Teruskan Pencarian
Next Pagaralam Kota Seribu Air Terjun