Hukum Meniup Makanan Dan Minuman yang masih Panas


Oleh: Ustadz Muliadi Putra Anom (Penyuluh Agama Islam Kota Pagaralam)

Sahabat, agama Islam ini benar-benar agama yang teratur dan TIDAK ADA aturan yang mendzalimi. Itu buat kite semua, buat kebaikan kite semua. Dalam Islam diajarkan tentang aturan berhubungan dengan manusie, sikap kepada diri sendiri, tentang tauhid, zakat, shalat, dan sebagainye. Semua sudah barang tentu untuk kebaikan manusie yang mempunyai akal ini. Bahkan tentang (maaf) buang hajat juga diatur. Bagaimana cara membersihkan diri, dan sebagainye.

Salman Al-Farisi radhiallahu ‘anhu kepada seorang musyrikin yang berkata,:

“Sungguh nabi kalian telah mengajarkan segala sesuatu sampai-sampai perkara adab buang hajat sekalipun.” Salman menjawab: “Ya, benar…” (HR. Muslim )

Agama Islam ini agame yang sempurne. Yuk, disimak firman Allah subhanahu wata’ala (yang artinya):

“Pada hari ini, Aku sempurnakan bagi kamu agama kamu, dan Aku cukupkan ni’mat-Ku kepadamu, dan Aku ridla Islam jadi agamamu..”  (QS, Al Maidah:3.10)
Semua aturan itu pun buat kebaikan kita sendiri. Firman Allah (yang artinya):

“Barang siapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barang siapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (Q.S. Al Israa’:15)

Nah, terkait makan dan minum juga ada aturannya. Aturannya itu pun untuk kebaikan kita juga. Salah satunya, larangan meniup makanan dan minuman.

  1. Dari Abu Qatadah radhiallahu anhu dia berkata:

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menghembuskan nafas di dalam bejana (ketika minum).” (HR. Muslim )

2. Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi dari Israil dari Abdul Karim dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata;

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang meniup ke dalam makanan dan minuman.” (HR. Ahmad)

3. Dari Ibnu Abbas,

“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk bernafas atau meniup wadah air minum.” (HR. Al-Tirmidzi dan Abu Dawud, dan hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani)

Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa aturan dalam agama Islam itu untuk kebaikan bagi yang melaksanakannya. Apa kebaikan dari dilarangnya meniup makanan dan minuman? Seperti yang kita ketahui bahwa senyawa air  itu adalah H2O dan udara yang dihembuskan dari mulut itu adalah CO2. Jika H2O dan CO2 bereaksi akan menghasilkan H2CO3 yang membahayakan tubuh

Biasanya ketika kita makan makanan atau minuman yang panas maka kita meniupnya agar makanan atau minuman yang masuk ke mulut kita menjadi dingin. Hal ini dapat berisiko terhadap kesehatan kita dikarenakan makanan atau minuman yang masih panas tersebut akan mengeluarkan uap air yang mana kita tahu uap air adalah H2O(aq).’

Jika kita meniupnya, maka kita akan mengeluarkan gas CO2 dari dalam mulut. menurut reaksi kimia, apabila uap air bereaksi dengan karbondioksida akan membentuk senyawa asam karbonat (carbonic acid) yang bersifat asam.

H2O + CO2 => H2CO3

Perlu kita tahu bahwa di dalam darah itu terdapat H2CO3 yang berguna untuk mengatur pH (tingkat keasaman) di dalam darah. Darah adalah Buffer (larutan yang dapat mempertahankan pH) dengan asam lemahnya berupa H2CO3 dan dengan basa konjugasinya berupa HCO3- sehingga darah memiliki pH sebesar 7,35 – 7,45 dengan reaksi sebagai berikut:

CO2 + H20 <= H2CO3 => HCO3- + H+

Tubuh menggunakan penyangga pH (buffer) dalam darah sebagai pelindung terhadap perubahan yang terjadi secara tiba-tiba dalam pH darah. Adanya kelainan pada mekanisme pengendalian pH tersebut, bisa menyebabkan salah satu dari 2 kelainan utama dalam keseimbangan asam basa, yaitu asidosis atau alkalosis.

Asidosis adalah suatu keadaan di mana darah terlalu banyak mengandung asam (atau terlalu sedikit mengandung basa) dan sering menyebabkan menurunnya pH darah.

Sedangkan Alkalosis adalah suatu keadaan dimana darah terlalu banyak mengandung basa (atau terlalu sedikit mengandung asam) dan kadang menyebabkan meningkatnya pH darah.

Kembali lagi ke permasalahan awal, di mana makanan kita tiup, lalu karbondioksida dari mulut kita akan berikatan dengan uap air dari makanan dan menghasilkan asam karbonat yang akan mempengaruhi tingkat keasaman dalam darah kita, sehingga akan menyebabkan suatu keadaan di mana darah kita akan menjadi lebih asam dari seharusnya sehingga pH dalam darah menurun, keadaan ini lebih dikenal dengan istilah asidosis.

Seiring dengan menurunnya pH darah, pernafasan menjadi lebih dalam dan lebih cepat sebagai usaha tubuh untuk menurunkan kelebihan asam dalam darah dengan cara menurunkan jumlah karbon dioksida. Pada akhirnya, ginjal juga berusaha mengkompensasi keadaan tersebut dengan cara mengeluarkan lebih banyak asam dalam air kemih.

Tetapi kedua mekanisme tersebut tidak akan berguna jika tubuh terus menerus menghasilkan terlalu banyak asam, sehingga terjadi asidosis berat. Sejalan dengan memburuknya asidosis, penderita mulai merasakan kelelahan yang luar biasa, rasa mengantuk, semakin mual dan mengalami kebingungan. Bila asidosis semakin memburuk, tekanan darah dapat turun, menyebabkan syok, koma dan bahkan kematian

Demikian ajakan kami mudah-mudahan bermanfaat. Wassalam. (*)

Previous Peresmian Jembatan Pulo Emass Haru
Next LGBT Bisa Merusak Tatanan Sosial