Gitar Kepudang


Foto-foto: Dok/Pagaralam Pos  BERSEJARAH : Gitar kepudang juga bisa ditemukan di ukiran nisan Puyang Depati, Dusun Keban Agung.
Foto-foto: Dok/Pagaralam Pos
BERSEJARAH : Gitar kepudang juga bisa ditemukan di ukiran nisan Puyang Depati, Dusun Keban Agung.

PAGARALAM POS, Pagaralam – Bila Palembang ada tanjak, maka Besemah pun punya ikat kepala tradisional. Ikat kepala khas Besemah itu disebut dengan gitar kepudang. Yakni kain yang dilipat sedemikian rupa lalu diikatkan ke kepala. Namun melipatnya tidak bisa sembarangan. Sebab, lipatan gitar kepudang memiliki makna yang dalam. Umumnya, gitar kepudang ini dipakai oleh kaum laki-laki.

Dihubungi Pagaralam Pos, kemarin (7/10), pemerhati budaya besemah, Kasmadi Lani, menuturkan, gitar kepudang berarti sebuah ikat kepala. “Gitar artinya memutar. Sedangkan kepudang artinya berbentuk lekukan,” ucapnya.

Gitar kepudang sebut Madi, memiliki lipatan yang berjumlah ganjil. Yakni 3, 5, 7, dan 9. Nah, lanjut Madi, jumlah lipatan ganjil tersebut menyimpan makna. Jumlah lipatan 7 misalnya diuraikannya menandakan status orang yang memakainya merupakan seorang berjabatan tinggi. “Sedangkan jumlah lipatan 9 itu, menandakan orang yang pilihan. Sekelas sufi-lah. Jadi, untuk gitar kepudang yang lipatan ke dalamnya berjumlah 9, tidak bisa dipakai sembarangan,” imbuhnya.

Ditambahkan Madi, gitar kepudang dipakai pada waktu-waktu tertentu saja. Bila merunut sejarah masa lalu, Madi menyatakan, gitar kepudang dipakai para warga ketika menonton sebuah pertunjukan tari.

Apakah gitar kepudang tidak ditemukan di daerah lain ? Madi memprediksi demikian. Kendati aku dia, ada ikat kepala daerah lain yang mirip dengan gitar kepudang, namun tak seperti gitar kepudang dalam hal jumlah lipatannya.

Pakaian Kehormatan

Sementara itu, anggota lembaga lembaga adat besemah, Satarudin Tjik Olah, menambahkan, gitar kepudang memiliki fungsi sebagai pakain kehormatan. “Untuk menunjukkan budaya suatu daerah,”paparnya, ketika dijumpai Pagaralam Pos, di kediaman pribadinya, di simpang dusun Petani.

Menurut Satar, pada masa lalu, gitar kepudang tidak dipakai tiap hari. Menurut dia, gitar kepudang digunakan bila ada sebuah momen. “Misalkan pada saat sebuah pesta dan ketika menyambut pembesar-pembesar atau pemimpin,”sambung Satar memberikan contoh, ketika dijumpai Pagaralam Pos, di kediaman pribadinya.

Namun lanjut Satar, biasanya, yang memakai gitar kepudang juga memakai seragam khusus. Untuk atasannya menggunakan baju wajan, yakni sebuah baju mirip koko. Bawahannya memakai celana panjang polos. Antara bawahan dan atasan ini menyatu dan diikat dengan andam atau kain. “Andam dililitkan di pinggang,”ulasnya.

Lebih lanjut Satar menuturkan, di masa lalu, gitar kepudang dipakai secara luas oleh warga. Selain untuk membedakan status, kata dia, dari gitar kepudang pula bisa diketahui apakah yang memakainya sudah berkeluarga atau masih bujangan. Caranya sebut dia, dengan melihat sighatan alias ikatan di bagian belakang.

“Bila sighatan-nya mati,menandakan yang memakainya sudah bekeluarga,”terangnya. “Kalau sighatan-nya kendur, itu menandakan masih bujangan,” katanya pula.

Karena itu, untuk membedakan antara dengan ikat kepala para pembesar, dimunculkanlah yang namanya bulang begetang. “Sekurang-kurangnya, yang makai bulang begetang itu adalah seorang depati,” ucapnya.

Baik Madi maupun Satar sangat berharap, agar gitar kepudang tidak mengalami kepunahan. Harapan ini rupanya sudah dimulai oleh Besh Hotel. Manejemen Besh mewajibjan semua karyawannya (yang laki-laki), memakai gitar kepudang. “Besh Hotel ingin turut serta melestarikan budaya Besemah,” seru Eko Sujianto, PhD, Direktur Besh Hotel Pagaralam, suatu ketika. (11)

#Baca berita selanjutnya….terbit 8 oktober 2016#

Previous Cras dui lectus blandit semper rhoncus dictum
Next Bawa Sajam, Rio Terjaring Razia di Warnet