Tutughan, Tata Krama Memanggil di Bumi Besemah


Foto: Pidi/Pagaralam Pos
TATA KRAMA: Di Markas Forpa, tutughan atau tata krama panggilan di dalam keluarga diterapkan kembali.

Wak lanang dan Wak Betine, Panggilan Menantu untuk Mertua
Inilah Besemah. Bahkan panggilan pun diatur sedemikian rupa. Seorang menantu tidak bisa langsung memanggil dua mertuanya dengan sebutan ayah dan ibu. Inilah yang disebut dengan tutughan; tata krama memanggil yang berlaku di Besemah. Digerus zaman akibat tak dipakai lagi.
—————————-
ASMADI laksana kembali ke masa lalu ketika sebuah panggilan mampir di telinganya. Panggilan itu tidak panjang, singkat saja. Namun bagi Mady Lani, nama pena Asmadi, nama tersebut terasa sangat dekat, tapi sudah lama tak terdengar lagi. Panggilan itu berbunyi nakan.
Hari itu, di Tanjung Sakti, Mady yang sejatinya sedang menghadiri undangan, justru memusatkan perhatiannya kepada ikhwal penyebutan nakan. Tiap rumah ia datangi untuk bertanya banyak hal. “Mendengarnya merdu sekali,” ujar Mady, kepada Pagaralam Pos, di markas Forum Pecinta Alam (Forpa) Besemah, kemarin (26/5).




Nakan, merupakan panggilan untuk menantu adik perempuan atau menantu adik laki-laki. Panggilan inilah yang disebut Mady sebagai tutughan, tata krama atau adab memanggil seseorang di dalam keluarga. Dari Tanjung Sakti, Mady, lantas memutuskan untuk melakukan penggalian lebih dalam tentang tutughan.




Nakan, merupakan salahsatu panggilan yang digali dan dihimpun oleh Mady. Total ada 17 tutughan yang berhasil dihimpun oleh sastrawan ini. Ia menggali tutughan ini langsung ke lapangan selama lebih dari satu minggu. “Lokasi penelitian saya mencakup kecamatan Dempo Utara. Mulai dari dusun Jambat Akar, sampai Kerinjing,” tutur penasihat Forpa ini.




Selain nakan, ada pula tutughan beliau banyak dan beliau uni. Menurut Mady, beliau banyak dan beliau uni adalah sebutan dari menantu untuk dua mertuanya. Akan tetapi panggilan ini punya syarat. “Kalau sudah punya anak, barulah menantu bisa memanggil dua mertuanya dengan beliau banyak (mertua laki-laki) dan beliau uni (mertua perempuan),” ucap Mady yang pernah melanglang buana di Lubuk Linggau ini.




Kata Mady lagi, sebelum punya anak, menantu tak diperkenankan memanggil dua mertuanya dengan sebutan umak dan bak atau ayah dan ibu. Menantu tersebut hanya bisa memanggil kedua mertuanya dengan wak lanang (mertua laki-laki) dan wak betine (mertua perempuan). “Ada tahapan bagi menantu yang ingin menyebut mertuanya dengan umak dan bak,” ulas Mady.




Mengapa harus demikian? Dari hasil tela’ah dan penggaliannya, Mady menyimpulkan bahwa, tahapan itu berguna agar orang-orang tidak salah kaprah. Orang-orang di luar keluarga, bisa membendakan mana menantu dan mana yang bukan. Juga, untuk sopan santun antar anggota di dalam sebuah keluarga.




Panggilan untuk keponakan kesayangan pun juga sudah diatur dalam tutughan. Seorang mamang (paman, om) bisa memanggil keponakannya dengan mok. “Mok, merupakan panggilan untuk keponakan kesayangan,” sebut Mady.




Nyaris Hilang
Namun, hasil penggalian dan pengamatan langsung yang dilakukan oleh Mady menyimpulkan kenyataan yang sangat miris. Menurut Mady, tutughan sudah jarang dipakai oleh masyarakat Pagaralam, bahkan di pedusunan. Padahal kata Mady, di Besemah luar seperti di Tanjung Sakti dan Kikim tutughan masih dipakai oleh warganya. “Ini sangat mengherankan,” ujar Mady.




Di dusun yang bertetangga seperi Pematang Bango dan Pagar Banyu misalnya, disebutkan Mady, budaya tutughannya sudah nyaris tak dipakai lagi. Sehingga panggilan mok sampai dengan beliau banyak dan beliau uni jarang terdengar.




Ia menduga, itu bisa terjadi sebagai dampak dari masuknya budaya baru ke masyarakat. Sehingga masyarakat seolah-olah jadi sungkan untuk menggunakan tutughan di dalam kehidupannya. “Kalau karena modernisasi rasanya tidak. Saya bilang karena sudah ‘rusak lidah’,” sebutnya.




Karena itu, Mady berusaha kembali membangkitkan lagi budaya tutughan. Lingkup pertama yang disasarnya adalah Markas Forpa Besemah. Dia mulai mengajak anggota Forpa untuk menggunakan tutughan. “Sekarang saya manggil Gepenk dengan Mang dan Om. Dia manggil saya mok. Sebab saya adalah keponakan dia,” ucap Mady memberikan contoh, lalu tergelak-gelak. Dengan cara itu ia berharap perlahan tutughan kembali digunakan lagi. Setidaknya itu dimulai dari Markas Forpa Besemah.




Banyak Lautan di Pagaralam
PAGARALAM memang kota yang dikelilingi bukit dan gunung. Namun jangan salah, di Pagaralam banyak sekali lautan. Tapi lautan yang satu ini bukanlah sebuah laut yang berisi air asin dan memiliki garis tepi berupa pantai. Lautan di Pagaralam ini merujuk kepada sebuah panggilan. “Lautan itu adalah sebutan untuk kakak laki-laki dari istri. Atau adik laki-laki dari istri,” terang Mady.




Dan lautan merupakan salahsatu tutughan yang kerap dipakai oleh masyarakat Besemah dari dulu sampai dengan sekarang. Menurut Mady, dengan tutughan seperti ini seorang tidak bisa memanggil kakak ipar atau adik ipar laki-lakinya dengan nama. “Harus ada tata krama,” ujar Mady.(11/CE-V)

Previous Meski Pelosok, Tetap Diperhatikan
Next Sumsel di Pilih Jadi Tuan Rumah Word Champions Motor Cross MXGP