Tradisi Pantauan Bunting


Foto-foto: dok/Pagaralam Pos/ilustrasi
Foto-foto: dok/Pagaralam Pos/ilustrasi

PAGARALAM POS, Pagaralam – Usai lebaran, banyak warga yang melangsungkan pernikahan. Di Pagaralam, ada satu tradisi yang ditujukan untuk menghormati para pengantin. Dalam bahasa Besemah pengantin disebut dengan bunting. Tradisi itu dinamakan pantauan bunting. Hingga kini, pantauan bunting masih terus dijalankan masyarakat Pagaralam.

Anggota Lembaga Adat Besemah, Satarudin Tjik Olah menjelaskan, pantauan bunting merupakan tradisi untuk menghormati pengantin. “Wadah untuk menjamu pengantin. Juga untuk mempererat tali kekeluargaan,” ucap Satar, dijumpai Pagaralam Pos di kediaman pribadinya di Simpang Dusun Petani, kemarin (15/7).

Pantauan bunting kata Satar, digelar oleh sanak famili pengantin. Bisa juga digelar oleh warga di dusun tempat pengantin itu melangsungkan pernikahan. “Umumnya mantau bunting dilaksanakan saat hari bemasak. Sebab, di hari itu pengantin belum terlalu repot. Kalau dilaksanakan pada hari H, tentu akan repot,” sambungnya.

Mereka yang menggelar pantauan bunting disebut mantau bunting. Orang yang mantau bunting lanjut Satar, biasanya harus mengajak pengantin untuk datang ke rumahnya. Di dalam rumah pengantin dijamu dengan berbagai macam makanan. “Pengantin tidak datang sendiri. Mereka juga ditemani oleh bujang dan gadis ngantat,” imbuhnya.

Di dalam rumah, pengantin serta bujang dan gadis ngantat dipersilakan untuk mencicipi makanan yang disediakan oleh orang yang mantau bunting. Sembari makan, yang empunya rumah menyempatkan diri untuk berbincang dengan pengantin. “Makanya seperti yang saya bilang tadi. Dengan mantau bunting seseorang bisa memperkenalkan diri sebagai bagian dari keluarga si pengantin. Nah dari sini, pengantin akan tahu bahwa rumah yang didatangi itu adalah keluarganya,” bebernya.

Tentu yang didatangi pengantin serta para pengiringnya bukan satu dua rumah. Tapi sangat banyak. Menurut Satar, bila yang menggelar pantauan bunting jumlahnya banyak. Maka dipastikan pengantin akan kekenyangan. “Kadang karena sudah terlalu kenyang, pengantin tidak makan lagi. Tapi karena demi menghormati tuan rumah, tetap saja mereka makan sedikit,” tutur Satar sembari tersenyum.

Satar memastikan, hingga kini pantauan bunting masih terus diterapkan warga Pagaralam. Terutama kata dia di dusun-dusun yang mempertahankan tradisi Besemah. “Berdasarkan pengamatan saya, masih berlangsung. Sebab, tradisi pantauan bunting sudah mengakar kuat di tengah masyarakat. Sulit untuk ditinggalkan,” ucapnya menegaskan. (11/CE-V)

#baca berita selanjutnya….terbit tgl 16 juli 2016#

Previous Juanda Diringkus Lagi Asyik Nongkrong
Next Lahat Negatif Vaksin Palsu