Tahun 1952, Ir Soekarno Injak Tanah Besemah


Napak Tilas Kunjungan Ir Soekarno di Tanah Besemah
Sosok Pemimpin Tegas dan Dicintai Seluruh Rakyat
PAGARALAM POS, Pagaralam – Tak banyak masyarakat Pagaralam mengetahui, jika di tahun 1952 lalu Presiden Pertama Indonesia, Ir Soekarno, pernah berkunjung dan menginjakkan kakinya di tanah Besemah.




Bahkan menurut beberapa sumber, pamong budaya dan ahli sejarah yang berhasil dibincangi wartawan koran ini, jika di tahun 1952 itu Ir Soekarno atau yang lebih dikenal dengan sebutan ‘Bung Karno’, pernah berkunjung ke Kota Pagaralam, dalam rangka perjalanan beliau ke Sumatera Selatan, meninjau persiapan Pemilihan Umum (Pemilu) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Lampung.




Lantas hal apa yang mendorong, beliau yang jauh-jauh datang ke Kota Perjuangan ini? Sampai dengan sekarang pun masih penuh diselimuti kabut misteri, mengingat Pagaralam atau dahulu dikenal dengan sebutan Pasoemah-Landen, merupakan Onderafdeeling dari Afdeeling Lahat atau Palembangsche Bonvelanden (menurut Staatsblad Van Nederlandsch-Indie No.446 tahun 1906, No.212 tahun 1994 dan No.616 tahun 1918).




Foto: Dokumen Disdikbud Kota Pagaralam
DISAMBUT RIBUAN RAKYAT: Kunjungan Preside Soekarno di tanah Besemah, disambut begitu antusias oleh ribuan rakyat, yang rela mengantre hingga ratusan kilometer di pinggir jalan.

“Saya masih sangat ingat sekali. Saat itu tengah ditunjuk berjaga. Selain dari petugas kepolisian, ribuan rakyat dari Lintang hingga Pagaralam berkumpul menjadi satu, dengan rela mengantre di sepanjang pinggiran jalan menunggu kehadiran Soekarno,” kata Yarus (79), seorang veteran, dengan pangkat terakhir Peltu, diwawancarai wartawan koran ini, belum lama ini.




Saat tiba dan hendak memasuki lapangan Merdeka, sejak jauh mobil dikendarainya tidak dihidupkan lagi, hanya didorong rakyat dari tangan ke tangan, sehingga seolah terlihat berjalan. Dan Soekarno pun berdiri di atas kap bagian depan, sembari melambaikan tangan menyapa seluruh rakyatnya.




“Begitu rindu dan cintanya rakyat dengan sosok pemimpin bangsa Indonesia ini, menjadikan sepanjang jalan yang dilalui Soekarno persis bak lautan manusia. Mereka berebut berjabat tangan dengan beliau, seumur hidup baru inilah melihat seorang Presiden dan pemimpin bangsa, yang begitu sangat dicintai rakyat,” kenang Yusri.




Begitu khusyuknya rakyat mendengar isi pidato Bung Karno, dengan semangat yang begitu berapi-api. Di atas podium terbuat dari bambu panjang nan tinggi, ketika bambu itu roboh, seluruh rakyat tidak merasakan, karena terhanyut dalam semangat perjuangan yang dikatakan Soekarno. Usai beliau berpidato di lapangan Merdeka, kalau sekarang itu berada persis di wilayah Masjid Taqwa, kata Yusri, beliau pun menyempatkan makan siang di Taman Kanak-kanak (TK) Dharma Wanita.




“Akulah Tapak Besemah, Akulah Pisau Serunting”
Pandangan hampir serupa mengenai kunjungan Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir Soekarno, disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Pagaralam, Drs H Marjohan Derah MPd, melalui Pamong Budaya, Aryo AB, dari berbagai sumber informasi yang diperoleh, ditambah dengan cerita dari para sesepuh, bahwa kekaguman rakyat Pagaralam terlihat dari sambutan mereka pada saat kedatangan Bung Karno.




Menurut cerita pada waktu itu beliau sedang berdiri di atas mobil Volks Wagen (VW) sambil melambaikan tangan, memberi salam kepada rakyat yang menyambut kedatangannya, akan tetapi mobil tersebut dalam keadaan mati. Dan rakyat Pagaralamlah secara beramai-ramai dan saling sambut mendorong mobil tersebut, sehingga nampak berjalan pelan.




Bahkan dari salahsatu foto dokumentasi sejarah, menunjukkan terlihat jelas antusias warga yang terdiri dari berbagai macam latar belakang sosial yang datang untuk menghadiri dan menyaksikan rapat raksasa di Kota Pagaralam,




Ketika itu Bung Karno pernah berkata, “Akulah Tapak Besemah, Akulah Pisau Serunting”. Sebenarnya, itu adalah ucap atau mantra orang lama, kita pun tidak pernah tahu dari siapa beliau tahu itu, bila boleh diartikan beliau mengakui sebagai bagian dari orang Besemah,” tuturnya.




Diberi Gelar Sindang Merdike
Sebutan Pagaralam sebagai Kota Perjuangan bukanlah sekedar ucapan atau tulisan saja, melainkan sebuah kenyataan yang mengandung nilai sejarah di dalamnya.




Menurut Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Pagaralam, Drs Marjohan Derah MPd, melalui Kabid Kebudayaan, Najamuddin SPd MM, didampingi Pamong Budaya, Aryo AB menyebutkan, jika sebutan Pagaralam kota perjuangan tak lain karena perjuangan rakyat Pagaralam yang sudah dimulai sejak zaman dahulu kala.




Berbagai suku yang berperang untuk memperebutkan wilayah ini. Di era Kesultanan Palembang secara dejure tanah Pagaralam merupakan wilayah mereka, akan tetapi secara defacto rakyat Pagaralam tidak pernah tunduk di bawah kekuasaan Kesultanan Palembang. Bahkan mereka diberi gelar ‘Sindang Merdike’ atau penjaga perbatasan.




“Pada tahun 1867, Pagaralam resmi dijajah oleh Belanda. Di tahun 1942 – 1943 berganti Jepang yang ingin menguasai Pagaralam, hingga pada tanggal 17 Agustus 1945 Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia. Itulah mengapa Kota Pagaralam disebut sebagai ‘Kota Perjuangan’, pungkasnya. (09/CE-V)

Previous Alpian Sabet Jungleman Award
Next Rumah Faisal Ludes Terbakar