Sedekah Ruwah dan Berziarah Kubur


Foto: Pidi/Pagaralam Pos
JELANG RAMADHAN: Para peziarah berdatangan ke kompleks tempat pemakaman umum (TPU) Simpang Padang Karet, kemarin. Mereka datang guna mendoakan keluarganya yang sudah meninggal dunia.
Foto: Pidi/Pagaralam Pos
JELANG RAMADHAN: Para peziarah berdatangan ke kompleks tempat pemakaman umum (TPU) Simpang Padang Karet, kemarin. Mereka datang guna mendoakan keluarganya yang sudah meninggal dunia.

Tradisi jelang Ramadhan
Bulan suci ramadhan sebentar lagi tiba. Banyak tradisi yang dilakukan masyarakat guna menyambut bulan puasa itu. Dari sedekah ruwah sampai berziarah kubur digelar. Berharap ramadhan tahun ini membawa berkah. Dirunut dari sejarah, dua tradisi ini sudah ada sejak dulu.
————
SAIMAN tidak terkejut ketika melihat tempat pemakaman umum (TPU) Padang Karet, dipadati para peziarah kemarin, (19/5). Lelaki yang bertugas sebagai penjaga TPU Padang Karet sejak 1968 ini menganggap itu merupakan hal yang biasa. “Iya. Kalau sudah dekat-dekat bulan puasa, memang banyak yang datang untuk berziarah,” ujar Saiman, ditemui Pagaralam Pos.




Diakui Saiman, kedatangan para peziarah itu guna mendoakan keluarga atau orang dekat yang sudah meninggal dunia. Di bulan yang baik, jelang puasa, diharapkan doa akan dikabulkan oleh Allah SWT. “Kalau dulu sebelum ada TPU baru, jumlah peziarah lebih banyak lagi,”imbuh Saiman. TPU yang dimaksud Saiman adalah yang berada di ujung simpang Padang Karet, dekat kompleks rumah tahanan (Rutan) yang belum jadi.




Ziarah kubur memang jamak terlihat ketika ketika mendekati bulan puasa. Warga berdatangan ke TPU-TPU, ataupun ke kompleks kuburan keluarga. Selain berziarah, para warga pun membersihkan kuburan keluarganya itu.




Bagi Satarudin Tjik Olah, ziarah kubur merupakan bagian dari tradisi masyarakat. Ziarah, diakui Satar, memang banyak terlihgat ketika sudah mendekati bulan suci ramadhan. Menurut dia, itu merupakan cara bagi orang yang masih hidup untuk mendoakan orang yang sudah meninggal. “Waktunya dirasa pas, dekat dengan bulan ramadhan,”ujar Satar, ketika dijumpai Pagaralam Pos, di kediamannya.




Umumnya, Satar melanjutkan, peziarah datang sembari membawa surah yasin. Di kuburan itulah, mereka membacakan yasin. Setelah itu mereka berdoa kepada Allah SWT supaya orang yang sudah meninggal dunia, antara lain dilapangkan kuburnya. Kemudian diterima segala amal ibadahnya. Juga diampuni segala dosa-dosanya.




Bila merunut sejarah, Satar menambahkan, ziarah kubur memang sudah ada sejak dulu. Namun diceritakannya, sebelum Islam dikenal luas, ziarah kubur kadangkala dibarengi dengan membawa sejumlah makanan seperti tumpeng. “Nah, setelah ajaran Islam menyebar, tradisi membawa tumpeng ke kuburan itu dihapus. Diganti dengan doa,”tuturnya.




Ziarah kubur bukan satu-satunya tradisi yang kerab terlihat di tengah masyarakat ketika bulan ramadhan mendekat. Masih ada tradisi lainnya yakni sedekah ruwah. Satar mengatakan, sedekah ruwah merupakan tradisi masyarakat untuk menyambut bulan ramadhan.




“Acaranya berupa zikir dan berdoa. Menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT karena sudah dipertemukan kembali dengan ramadhan, bulan yang baik,”terangnya.




Sebagaimana ziarah, diakui Satar, sedekah ruwah sudah ada sejak dulu. Namun kata dia, caranya berbeda dengan yang sekarang. “Kalau dulu, sedekah ruwah masih terpengaruh dengan anismisme,” ucapnya. Hal ini dapat dimaklumi, menurut Satar, saat itu, ajaran Islam belum merata sampai ke tingkat bawah. Islam saat itu, kata Satar, belum terlalu merakyat.




Kata Satar, masyarakat zaman dulu percaya, bahwa sebelum ramadhan tiba, arwah-arwah para pendahulu akan kembali ke rumah. “Karena arwah-arwah mau ‘pulang’, harus dijamu,”sambung Satar.




Keluarga besar berkumpul di sebuah rumah. Di dalam rumah itu, di zaman itu, lanjut Satar, sudah disediakan makanan berupa punjung atau tumpeng. “Waktu saya kecil, saya masih sering mendengar dan melihat sedekah ruwah model begitu,”kenang Satar yang kini berusia lebih dari 60 tahun.




Kini, tradisi sedekah ruwah masih ada meskipun tidak lagi memakai acara penyambutan arwah seperti zaman dulu. Masuknya ajaran Islam, membuat sedekah ruwah disesuaikan dengan syariat ajaran Islam.




Sebungkus Kembang
Di TPU Padang Karet, terdapat pedagang yang menjajakan kembang. Kembang aneka rupa ini dibungkus dalam satu kantong plastik putih transparan. Satu bungkus plastik berisi kembang ini, disebutkan Saiman dibanderol dengan harga Rp 5 ribu. “Ini kebetulan yang jualan bunga adik saya,”ujar Saiman.




Peziarah, kata Saiman, menaburkan kembang-kembang itu di atas kuburan. Dia kurang paham makna dari penaburan bunga itu. Hanya saja dia menyatakan, itu merupakan tradisi yang sudah ada sejak dulu. Karena itu, perlu disediakan kembang agar peziarah tidak perlu repot-repot mencari dan membawa kembang dari rumah.




Mengundang Para Tetangga
SEDEKAH RUWAH rupanya bukan hanya digelar untuk internal keluarga saja. Sedekah ini juga melibatkan tetangga. Tahun lalu, Pagaralam Pos sempat mengamati prosesi sedekah ruwah di kawasan Koramil Lama, kecamatan Pagaralam Utara. Empunya sedekah juga mengundang para tetangganya. “Dalam rangka menyambut bulan ramadhan,”kata empunya rumah ketika itu, mengenai tujuan sedekah ruwah.




Setelah empunya rumah menyampaikan maksud dan tujuannya, inti sedekah ruwah dimulai. Inti sedekah ruwah itu memang berada di doa dan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Setelah itu para tamu undangan dipersilahkan untuk mencicipi aneka panganan yang disediakan empunya sedekah ruwah.




Adapun kondisi tempat pemakaman umum (TPU) di Pagaralam beberapa terkahir selain ramai, juga nampak lebih bersih dari sebelumnya. Pengamatan Pagaralam Pos, rerumputan liar yang berada di dalam dan luar TPU di berbagai dusun dibersihkan. Salahsatunya adalah TPU dusun Pagardin, kecamatan Dempo Utara. (11)

Previous Air Bersih Terbuang Percuma
Next Alpian Bakal Gaet Gerindra