Putra Pagaralam yang Mengajukan Perlindungan Teknologi Paten Dunia






PEPATAH mengatakan, tak kenal maka tak sayang. Rasanya ungkapan itu pas untuk ditujukan kepada Bakal Calon (Balon) Walikota Pagaralam, bernama lengkap Henky Solihin MZ SH MH. Selama ini, masyarakat hanya mengenal dia sebagai putra Besemah tercatat mantan Balon Gubernur Jawa Barat termuda saja.

Balon Walikota Pagaralam 2018-2023, Henky Solihin MZ SH MH

Sebenarnya bukan rahasia umum lagi, banyak Jeme Besemah kelahiran Pagaralam yang sukses di rantau dan mengharumkan nama Bangsa secara umum dan Kota Pagaralam secara khusus. Salahsatunya ialah Henky Solihin, yang banyak memegang beberapa jabatan strategis. Di antaranya, berprofesi sebagai Konsultan Kekayaan Intelektual.




Menurutnya, sebagai seorang konsultan yang menjalankan perintah Undang-undang di tengah-tengah pelaku usaha, dia harus benar-benar aktif. Apalagi hukum yang mengatur kekayaan Intelektual tentang Paten, Merek dan Hak Cipta, yang sudah ada sejak zaman kolonial Belanda, berkisar tahun 1840an. Dan saat itu Indonesia masih bernama Netherlands East Indies.

Ditambahkan Henky, dari catatan hasil Anual Report atau laporan tahunan Badan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menangani Kekayaan Intelektual, yaitu World Intellectual Property Organization (WIPO), khusus permintaan perlindungan Paten di bidang teknologi dari tahun 2000, tidak ada satupun pengajuan perlindungan Paten karya putra Indonesia yang meminta perlindungan Internasional. Sementara, pengajuan Paten dunia yang memilih Negara Indonesia hampir 60.852.




“Dan alhamdulilah, tahun 2010 saya salahsatu konsultan pertama yang mengajukan perlindungan Paten Dunia asli karya putra Indonesia ke WIPO, melalui jalur PCT (Patent Cooperation Treaty),” ujarnya.




Dengan demikian, wajar saja kalau pemikiran Henky ini tentang pembangunan ekonomi dalam bidang kekayaan intelektual banyak ditulis dan diterbitkan media cetak dan elektronik besar, yang dapat dilihat di google dan youtube. Salahsatu gagasan beliau yang sempat menjadi isu nasional, adalah gagasan yang berjudul Indonesia Butuh Badan Riset Paten Nasional dan Dalam Penelusuran Rekam Jejak.




Beliau juga aktif memberikan kontribusi pemikiran, baik untuk pemerintah maupun swasta dalam tingkat regional dan nasional. Seperti tingkat Regional di undang DPRD Jawa Barat, untuk didengar masukan atas Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) terkait Produk Jawa Barat.




Sementara pada tingkat Nasional, dipercaya Parlemen DPR RI untuk didengar pendapat atas rancangan Undang-undang Republik Indonesia Tentang Paten (Pansus RUU Paten). Pada seminar tingkat Nasional, beliau pun banyak diundang dan terlibat sebagai pembicara. Seperti diundang Fraksi Partai Nasdem DPR-RI, menjadi pembicara atas revisi Undang-undang Negara Republik Indonesia Nomor 15 tentang Paten dan lain-lain.




Ketika Wartawan Koran ini, Jum’at (28/4) menanyakan motivasi dan orientasi slogan Pagaralam Maju Bersama, yang banyak tertulis di baliho dan spanduknya menghiasi Pilkada 2018. Menurut Henky, Pagaralam Maju Bersama adalah konsep atas keyakinan beliau bahwa Kota Pagaralam memiliki segudang potensi Sumber Daya Manusia (SDM) yang hebat dan ditunjang dengan kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) yang dimiliki.




“Di era globalisasi kita dipacu untuk aktif dan kreatif, guna mengantisipasi persaingan global yang sentuhannya bukan saja dirasakan oleh Negara-negara berkembang. Namun sentuhannya sampai ke beberapa pelosok daerah di belahan dunia,” sebutnya.




Untuk mengimbangi hal tersebut, dan juga mengejar ketinggalan, kata Henky, maka ke depan blue print infrastruktur rancangan pembangunan Kota Pagaralam harus dimulai dari bawah (bottom up), bukan dimulai dari atas (top down). Sehingga dapat dirasakan langsung ke semua lapisan bawah. Pemilihan Langsung Kepala Daerah (Pemilukada) yang telah dilewati beberapakali, adalah wujud kedaulatan demokrasi di tangan rakyat untuk menentukan pemimpin masa depan.




“Sumber pendapatan ekonomi masyarakat Pagaralam masih mengandalkan hasil pertanian yang kurang mendapat sentuhan oleh penguasa daerah, dan dari dulu sampai sekarang petani Pagaralam tidak punya posisi tawar. Semua masih berebut pada penjualan di pasar yang sama. Pagaralam harus mempunyai peta geografis pertanian (mapping agraris), untuk mengatasi dan mencegah penanaman jenis sayuran secara serempak. Karena akan berdampak anjloknya harga jual yang melebihi permintaan pasar,” terangnya.




Ke depannya, pemerintah juga haruslah berperan lebih aktif dan harus mengonsep managemen yang profesional untuk mengelompokan jenis-jenis sumber daya dalam pertanian. Meliputi lahan, teknologi, Sumber Daya Manusia, Sumber daya abiotik dan Modal. “Untuk SDA ini terbagi dua, yaitu SDA yang bisa diperbarui (renewable resources) dan SDA yang tidak bisa diperbarui (non renewable or exhaustible resources),” ujarnya.




Sementara itu, dalam sejarah perdagangan di Kota Pagaralam, orangtua Henky yakni H Murni Zaen dan almarhumah Mulijah, termasuk salahsatu pelopor membangun kota Pagaralam, dengan cara berdagang sejak tahun 1960an. Pada saat itu, satu-satunya toko modern kebanggaan masyarakat Pagaralam memperdagangkan barang-barang seperti alat musik piringan hitam, mesin-mesin kopi, padi dan lain-lain baru ada di toko Mutiara milik orangtuanya.




Mengatasi penggilingan kopi dan padi, secara cepat dan besar, maka sekitar tahun 1964 orangtuanya mendirikan pabrik penggilingan modern, dengan luas tanah 4 ½ hektar di daerah Jambat Balo Simpang Manna, yang sekarang menjadi cucian mobil Beringin Sakti dan pertokoan keluarga. Saat Pagaralam dilanda kebakaran hebat sekitar tahun 1974, toko Mutiara baru di bangun modern berlantai empat tahun 1980an. Dan kembali menjadi satu-satunya bangunan tertinggi di simpang empat Kota Pagaralam saat itu.




“Dahulu, setiap memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, semua sanak saudara selalu menyaksikan pawai karnaval di bangunan tersebut. Jadi, tidak aneh jika saat menjelang Kota Pagaralam yang akan diubah dari kecamatan menjadi kota administratif, bangunan toko Mutiara menjadi cover pemberitaan,” tutupnya. (09/CE-V)

Previous ‘Jangan Njegul Hutan dan Lahan'
Next Lampek Empat Merdike Duwe, Demokrasi ala Besemah