Perspektif Pembangunan Sentra Budaya dan Seni


CONTOH PANGGUNG_1

Oleh: Efvhan Fajrullah

Artikel ini semacam sambungan dari tulisan saya ‘Perlukah Sentra Budaya dan Seni di Pagaralam?’ yang juga telah dimuat di harian ini beberapa waktu lalu.

Apa yang menjadi harapan secara meluas bagi perkembangan mental, moral serta tatanan hidup generasi mendatang, ketika kota Pagaralam yang notabene masih dalam tahap berkembang, jika memiliki sebuah culture centre (sentra budaya, red) dan atau art centre (sentra seni) di masa mendatang?

Tak muluk-muluk. Namun jelas nantinya sangat erat berkaitan dan bersinergi dengan slogan ‘Pagaralam Secerah Alam’. Bukan saja akan menunjang fokus pembangunan di bumi Besemah; pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan ekonomi kerakyatan sebagai kebijakan strategis Pemerintah kota Pagaralam.

Lebih dari itu, dengan adanya sebuah sentra budaya, Pagaralam yang duluan telah ‘dikenal’ dengan salahsatu ikon alamnya, yaitu gunung Dempo, akan lebih dikenal lagi. Sebagai sebuah destinasi atau tujuan wisata, maka Pagaralam kedepan, juga akan lebih dikenal dari sisi lain yang merupakan ‘hasil budaya’ berupa sebuah bangunan, atau gedung pertunjukan.

Sebuah ikon yang berkaitan erat dengan semua sektor pembangunan. Terlebih bidang pariwisata, sebagai menara gading dalam usaha menggali dan mengembangkan potensi daerah, dalam hal ini budaya dan kesenian. Yang jelas dapat menjadi salahsatu aspek dalam upaya meningkatkan perekonomian rakyat. Serta yang tak kalah penting, mampu pula meningkatkan pendapatan daerah (PAD).

Sebab, di sentra kebudayaan dan seni itulah nantinya akan berkumpul dan bertemunya para seniman, pekerja seni, pelaku-pelaku seni, pengerajin seni dan pemerhati budaya Besemah, dari semua tingkatan. Baik anak-anak, remaja, orang tua, bahkan masyarakat umum sebagai penikmat, atau apresiatornya.

Nah, dari adanya tempat ‘kongkow’ semua kalangan tersebut, nantinya diharapkan dapat saling bersinergi, baik dalam upaya pengembangan dan atau melestarikan budaya Besemah itu sendiri maupun interaksi dengan ‘dunia seni’ di luar Pagaralam.

Sementara untuk wisatawan, baik wisatawan regional maupun internasional, yang pada awalnya mungkin hanya bertujuan menikmati pesona alam bumi Besemah yang telah ‘tersedia’. Akan tetapi, seandainya sentra budaya telah berdiri dan ada di Pagaralam, mereka tentu tak akan sulit mencari-cari ke mana harus menikmati dan ‘membaca karakter’ asli atau khas Besemah.

Mereka (wisatawan, red) akan dapat lebih mengenal kedahsyatan, keindahan serta keelokan ragam budaya Besemah yang ditampilkan secara berkala serta terjadwal rapi. Dan dengan pegiat seninya menjadi tuan rumah di tanahnya sendiri. Semoga. (vhan)

Penulis adalah Jurnalis.

Pernah mendapat Anugerah Seni Batanghari 9

dari Provinsi Sumsel, kategori Seni Teater tahun 2010.

Kini Berdomisili di Kota Pagaralam.

Previous Kodim Bersama Warga Perbaiki Jalinsum
Next Pisang Belum Terjual, duo Sekawan Diringkus