MENJAGE AMANAH SURGE BADAHE


Oleh : Ust. Muliadi Mangku Anom,S.Pd (Pengasuh Qolbu Koran Pagaralam POS)

Allah telah memerintahkan kepada kita untuk menjadi pribadi yang amanah, baik amanah kita sebagai seorang Muslim yang harus menjalankan kewajiban-kewajiban kita kepada Allah, maupun amanah-amanah lain sesuai kapasitas dan kedudukan kita dalam masyarakat, seperti sebagai kepala keluarga, sebagai anak, sebagai karyawan, maupun amanah sebagai pemimpin. Inilah yang dapat kita pahami dari firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa’: 58).

Oleh karena itu, mari kita sadari betapa besar ancaman Allah, jika kita mengabaikan amanah yang dipikulkan di pundak kita. Rumah tangga akan hancur berantakan manakala ayah, ibu, atau anak tidak memenuhi amanah yang telah menjadi kewajiban mereka masing-masing. Masyarakat dan negara juga akan hancur, apabila para pemimpin tidak menjalankan amanah yang dipercayakan kepadanya; apakah sebagai ketua RT, ketua RW, kepala desa, camat, bupati/walikota, gubernur, presiden, atau juga para wakil rakyat.

Tentu hal ini akan semakin runyam ketika rakyatnya pun tidak menjalankan fungsi mengingatkan atau amar ma’ruf nahi mungkar. Itulah sebabnya Nabi Muhammad mengingatkan kita tentang beratnya mengemban amanah ini. Diriwayatkan oleh sahabat Abu Dzar radhiyallahu anhu, ia berkata :

“Wahai Rasulullah jadikanlah saya sebagai pemimpin, maka Rasulullah menepuk pundaknya sambil berkata: Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau orang yang lemah dan kepemimpinan itu adalah amanah, dia di hari kiamat nanti merupakan penyesalan dan kesedihan, kecuali yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan semua kewajiban di dalamnya.” (HR. Muslim).

Saking beratnya, ia membutuhkan orang yang kuat untuk memikulnya. Sungguh amanah kepemimpinan, dalam semua levelnya, bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan. Sebab kelak seluruh telunjuk orang yang dipimpin akan mengarah kepada pemimpinnya. Maka sekali lagi, amanah itu tidak ringan. Itulah sebabnya, langit dan bumi pun menolak ketika akan diberi amanah oleh Allah.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengidentikkan bahwa orang-orang yang suka berkhianat atas amanah yang diberikan kepadanya sebagai orang-orang yang memiliki tanda-tanda kemunafikan. Abu Hurairah radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

“Tanda-tanda orang munafik ada tiga; jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia ingkar, dan jika diberi amanah ia berkhianat.”(Muttafaq Alaihi).

Lalu apakah sebenarnya amanah itu? Amanah menurut bahasa berasal dari kata-kata ‘aman’, yaitu kebalikan dari takut. Sedangkan amanah adalah kebalikan dari khianat. Amanah menurut istilah artinya perilaku yang terpancar dari jiwa, dengannya seseorang menjaga diri dari apa-apa yang bukan haknya walaupun terdapat kesempatan untuk melakukannya, tanpa merugikan dirinya di hadapan orang lain; dan menunaikan kewajibannya kepada orang lain, walaupun terdapat kesempatan untuk tidak menunaikannya tanpa merugikan dirinya di hadapan orang lain.

Amanah merupakan salah satu akhlak dasar para utusan Allah, yaitu shiddiq, amanah, fatanah, dan tabligh. Allah subhanahu wataala memberikan keutamaan kepada orang-orang yang menunaikan amanah sebagai balasan baginya.

Pertama, amanah merupakan jalan menuju kesuksesan. Allah subhanahu wataala berfirman di dalam Surat al-Mukminun ketika menyebutkan sifat-sifat orang mukmin yang beruntung dan akan mendapatkan surga Firdaus, diantaranya adalah orang-orang yang memelihara amanah-amanah yang diembankan kepadanya.

Kedua, amanah adalah tanda keimanan seorang Muslim. Rasulullah shallallahu alahi wasallam bersabda : “Tidak ada iman bagi orang yang tidak amanah dan tidak ada agama bagi orang yang tidak memegang janji.” (HR. Ahmad).

Hadits di atas merupakan peringatan yang keras bagi kaum Muslimin agar terhindar dari sifat seorang munafik, yaitu khianat. Seorang Muslim semestinya adalah pribadi yang selalu berusaha untuk menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya.

Ketiga, orang yang amanah layak untuk menerima tanggungjawab.
Sebaliknya, Allah subhanahu wataala juga memberikan ancaman bagi mereka yang menghianati amanah.

Pertama, khianat merupakan sifat dari orang munafik seperi dalam dalam hadis yang dibacakan sebelumnya.
Kedua, para pengkhianat akan dipermalukan di hari kiamat. Rasulullah shallallahu alahi wasallam bersabda : “Sesungguhnya orang yang berkhianat akan mendapat bendera di hari kiamat, disebutkan ini adalah pengkhianatan si fulan bin fulan.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Ketiga, sifat khianat tidak disukai oleh Allah dan mendatangkan kebencian dari Allah subhanahu wataala. Allah berfirman : “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.” (Q.S. al-Anfal: 58)
Keempat, khianat merupakan sifat orang Yahudi yang dilaknat oleh Allah subhanahu wataala.
Kelima, khianat merupakan jalan menuju neraka.
Marilah kita berupaya sekuat tenaga untuk dapat menunaikan setiap amanah sekecil apapun yang telah dipercayakan kepada kita dengan sebaik-baiknya. Semoga Allah subhanahu wataala menguatkan kita untuk mengemban amana-amanah yang dengan sebaik-baiknya. (*)

Previous 159 CPNS Terima SK
Next Muba Tuan Rumah Kejurnas Rally 2021