Mengakui Keberadaan, Bukan Mengakui Kebenaran


Foto: Madhon/Pagaralam Pos
MATERI: Psikolog Pagaralam Muhammad Wujud memberikan pengatahuan, kepada seluruh Mahasiswa STIE-AMIK Lembah Dempo tentang bahaya LGBT.

PAGARALAM POS, Pagaralam – “Aktivis-aktivis Lesbian, Gay, Bisekesual dan Transgender (LGBT) kencang sekali, menyuarakan LGBT dan mereka ada. Tetapi, bisa kenali dari cara yang berbeda, dengan kebanyakan laki-laki dan perempuan pada umumnya,” terang Psikolog Kota Pagaralam Muhammad Wujud M.Psi, Psikologis, ketika memberikan materi dihadapan para Mahasiswa STIE-AMIK Lembah Dempo di giat penyuluhan bahaya LGBT, Kamis (13/2).

Menurut Mas Wujud sapaan akrabnya, istilah LGBT mulai muncul kurang lebih di tahun 1990an. Dan awalnya digunakan untuk menggantikan istilah ‘Komunitas Gay’ yang ada saat itu. Sejak ditemukan istilah LGBT, maka komunitas ini tidak hanya mewakili gay saja, tetapi juga lesbian, biseksual dan juga transgender.

“Di Indonesia yang masih menjunjung tinggi budaya Ketimuran, LGBT masih menjadi hal yang kontroversial dan cendrung ditolak. Pernikahan LGBT yang sudah disetujui di beberapa Negara di dunia, juga masih dilarang keras di Indonesia. Namun, tidak sedikit juga kalarangan, yang mendukung gerakan satu ini,” paparnya.

Meskipun pernikahan LGBT di Indonesia masiah dilarang keras, kata Mas Wujud, tapi perilaku LGBT di Indonesia tidak dianggap sebagai perilaku kriminal. Hanya dua Kota di Indonesia, yang melarang keras secara langsung perilaku LGBT ini, yakni Aceh dan Palembang.

“Lalu jadi pertanyaan kita bersama, apakah LGBT bisa disembuhkan ? sesuatu yang dibentuk dengan proses learn, maka bisa di unlearn, untuk penyembuhan memerlukan sebuah tim penyembuhan, yang multidisiplin (e.g. Dokter, Psikolog, Lawyer, Agamawan, Legislatif, Media dan termasuk juga masyarakat. Kita mengakui keberadaannya, bukan berarti mengakui kebenarannya,” tegasnya. (Cg09)

Previous GOW Pagaralam Gelar Penyuluhan Bahaya LGBT
Next BNN Ladang Ibadah, Jangan Nyerah Berbuat Baik