Masa Depan Profesi Pelukis ‘Masih Suram’


Foto: Pidi/Pagaralam Pos SEKEDAR HOBI: Nawan bersama dengan lukisan hasil karyanya.
Foto: Pidi/Pagaralam Pos
SEKEDAR HOBI: Nawan bersama dengan lukisan hasil karyanya.

PAGARALAM POS, Bumi Agung – Di kota-kota besar pelukis boleh jadi merupakan salahsatu profesi yang ‘elit’. Namun, tidak demikian halnya di Pagaralam. Di kota ini masa depan profesi pelukis nampaknya masih ‘suram’. Setidaknya ini yang dirasakan Deni Ernawan (51). Pria asal dusun Ujan Mas, Kelurahan Jangkar Mas, Kecamatan Dempo Utara ini merasa pelukis belum bisa dijadikan profesi utama.

“Untuk di Pagaralam rasanya pelukis belum bisa dijadikan profesi. Beda kalau di kota-kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta. Di kota-kota itu banyak orang yang hidupnya mapan dari hasil melukis,” sebut Nawan -sapaan akrab Deni Ernawan, saat dibincangi Pagaralam Pos di sela-sela aktivitasnya, di dusun Bumi Agung, kemarin.

Hal itu diperkirakan Nawan, karena di Pagaralam belum banyak yang gemar ataupun hobi mengoleksi lukisan. Karena itu tidak banyak pula yang mau membeli lukisan hasil karya para pelukis, termasuk karya dirinya.

Nawan pun memberikan contoh. Saat ini dirinya punya cukup banyak lukisan. Namun belum banyak yang diminati, alias belum terjual. Padahal, aku dia, lukisan tersebut cukup menarik. “Saya memang jarang menjual lukisan secara langsung. Karena saya tahu tidak akan banyak yang tertarik,” imbuhnya.

Dia juga punya pengalaman saat mencoba mencari peruntungan di pasar Pagaralam. Di sini Nawan menggelar lapak, yang isinya adalah lukisan hasil karyanya. Namun saat itu tidak ada yang membeli hasil karyanya itu. “Kalau yang menonton memang banyak sampai berkerumun, tapi tidak yang beli,” kenangnya.

Karena itu Nawan tidak mau menjadikan pelukis sebagai sumber penghasilan utamanya. Dia lebih memilih menjadi petani. Sedangkan melukis dia jadikan sebagai wadah untuk menyalurkan hobi. “Kalau ada waktu senggang baru saya melukis. Apa saja,” tuturnya. (11/CE-V)

Previous Pilih Menunggu Ketimbang Dirazia
Next Bocah Tewas Terpanggang