Lewat Tadut, Islam masuk ke Besemah



PAGARALAM POS, Pagaralam – Ada banyak versi tentang masuk dan berkembangnya Islam ke tanah Besemah. Satu di antaranya adalah melalui tadut yang dibawa para pedagang Arab. Dengan tadut, ajaran Islam cepat diterima warga Besemah.




Pemerhati budaya Besemah, Mady Lani menuturkan, Islam masuk ke Besemah dibawa oleh para pedagang Arab. Para pedagang ini kata dia, masuk ke Besemah lewat Manna, Bengkulu Selatan.




“Sambil berdagang, mereka (pedagang arab) menyebarkan agama Islam. Jalurnya dari Manna masuk ke Tanjung Sakti, sampai ke Gunung Agung,” papar Mady saat ditemui Pagaralam Pos di dusun Jambat Akar, kelurahan Jangkar Mas, kecamatan Dempo Utara, kemarin (3/3).




Menurut dia, dalam menyebarkan agama Islam di tanah Besemah, para pedagang arab tidak menggunakan cara frontal. Akan tetapi, kata dia, Islam diajarkan dengan cara yang lembut dan pelan-pelan. “Orang Besemah itu memiliki etika yang tinggi, halus dan berbudi. Kalau ajaran Islam diajarkan dengan cara kekerasan, sulit diterima warga saat itu,” terangnya.




Karena itu, pedagang arab kemudian memilih sastra lisan sebagai media untuk menyebarkan agama Islam. Hal ini lantaran saat itu di Besemah, diakui Mady Lany, sastra lisan sangat berkembang pesat. Di antara sastra lisan yang sudah populer itu adalah guritan dan rimbai. “Adapun para pedagang arab memakai sastra lisan yang bernama tadut untuk menyebarkan agama Islam,” sambung Mady.




Tadut sendiri dijelaskan Mady, berasal dari bahasa Arab, tahadut. Yang berarti menghafal berulang-ulang. Ini merupakan salahsatu jenis sastra lisan yang memiliki nada yang lembut dan mendayu-dayu. Karena berasal dari bahasa arab, Mady sangat yakin tadut berasal dari arab. Karenanya, baginya tadut bukanlah seni sastra lisan asli di Besemah, melainkan bawaan dari para pedagang arab.




Dengan memakai sastra lisan berupa tadut itulah mulailah pedagang arab menyebarkan Islam kepada warga Besemah. Misalnya dicontohkan Mady, pedagang arab mengajarkan rukun Islam, rukun Iman dan sifat 13 dengan menggunakan tadut.




“Rukun Islam ade lime. Rukun pertame percaye kepade Allah, dan seterusnya diajarkan melalui tadut. Karena berulang-ulang, akhirnya warga menjadi hafal,” ulas Mady tentang salahsatu contoh pengajaran Islam melalui tadut.




Bagaimana hasilnya? Mady menyatakan, berdasarkan observasinya di lapangan, tadut sangat efektif untuk menyebarkan agama Islam. Buktinya kata dia, saat itu banyak warga Besemah yang tertarik untuk belajar dan akhirnya memeluk agama Islam. Kelak Islam menjadi agama dominan di Besemah, termasuk di Pagaralam.




Penganut Agama Samawi
Jauh sebelum Islam datang, warga Besemah sendiri sejatinya sudah memiliki kepercayaan terhadap agama. Mady yakin bahwa warga Besemah baghi (lama) menganut agama samawi. Hal ini dibuktikan dengan masuknya nama Allah dalam mantra-mantra Besemah baghi.




“Sebagian lagi ada yang menganut animisme dan dinamisme. Animisme kepercayaan terhadap arwah nenek moyang. Adapun dinamisme kepercayaan terhadap alam,”sambung Mady. Karena itu Mady tak sependapat bila dikatakan di Besemah baghi berkembang agama Hindu maupun Budha.




Anak Muda Mulai Belajar Tadut
ABDUL HAMID sangat mengenali tadut. Kakek 88 tahun ini mengaku, saat masih kecil sering mendengar orang tua menuturkan tadut untuk belajar Islam.




“Hampir tiap malam. Bergiliran di rumah warga,” tutur Hamid, saat ditemui Pagaralam Pos di kediamannya, di dusun Jambat Akar, kemarin (3/3). Saat itu Hamid sendiri masih berumur sekira 12 tahun, karenanya ia hanya banyak mendengarkan saja.




Menurut dia, yang dipelajari warga saat itu bermacam-macam. Tapi yang paling diingatnya, adalah pelajaran tentang rukun Islam, rukun iman dan sifat 13. Semua materi itu kata dia, diajarkan melalui tadut. “Karena dituturkan secara berulang-ulang, akhirnya semua warga hafal dengan baik,” sambung Hamid.




Pemerhati budaya Besemah, Mady Lani menyebutkan, pemakaian tadut untuk mengajarkan Islam di Besemah sudah sangat lama. Karenanya ia maklum, jika para orangtua sekarang banyak yang lupa dengan tadut.
“Pak Hamid ini saja umurnya sekarang 88 tahun. Berarti, tadut itu sudah ada sebelum Bapak ini ada. Artinya, umur tadut sudah ratusan tahun,” ujarnya.




Senada dengan Hamid, Mady mengatakan, pengajaran Islam dengan media tadut dilaksanakan tiap malam, minimalnya satu minggu sekali. Lokasinya sebut dia, di rumah warga, bergantian. Sehingga semua rumah warga kebagian untuk jadi lokasi. “Jadwalnya sudah disusun. Malam ini di rumah si A, malam besok di rumah B. Terus begitu,” tuturnya.




Di dalam rumah yang sudah ditentukan, warga berkumpul. Di sana mereka duduk membentuk posisi melingkar. Pertama-tama penutur menuturkan rukun pertama Islam. Rukun keduanya disambung oleh orang yang duduk di sampingnya.




Demikian seterusnya, sehingga semua warga di sana tuntas menuturkan rukun Islam. Proses ini disebutkan Mady, dilaksanakan berulang-ulang, sampai semua warga hafal rukun Islam.
Sayang, kini tidak banyak warga yang mampu menuturkan tadut.




Karenanya Mady memprediksi, bila tidak digali dan diajarkan kepada anak muda, bisa saja tadut akan punah. Karena itulah, Mady saat ini mulai rajin membawa serta anak-anak muda, baik pria maupun wanita untuk belajar tadut. “Saat ini sudah ada beberapa anak muda yang menguasai tadut. Lumayan, beguyur,” katanya.
(11/CE-V)

Previous APBD Minim, Pembangunan Dilanjutkan
Next Atung Bungsu di Komering, Serunting di Ranau