Kisah Duel di Zaman Baghi


DSC_0014

Atung Bungsu Vs Liem, Muncullah Lematang

 PAGARALAM POS, Pagaralam – Pertarungan satu lawan satu alias duel bukan hanya dijumpai di zaman sekarang. Di zaman baghi (dulu), duel juga pernah terjadi. Bahkan duel di zaman baghi dikisahkan secara lisan dan tulisan secara turun temurun. Karena itu kisah tersebut masih sering didengar. Salahsatunya adalah kisah duel antara Puyang Atung Bungsu dengan Panglima Liem dari Tiongkok.

Anggota Lembaga Adat Besemah, Satarudin Tjik Olah, menyatakan, duel antara Puyang Atung Bungsu dengan Panglima Liem terjadi karena faktor ketidakcocokan. “Puyang Atung Bungsu menganggap adat yang dibawa Panglima Liem bersama anak buahnya tidak cocok di Besemah,” ucap Satar, dibincangi Pagaralam Pos di kediaman pribadinya, simpang dusun Petani, Kelurahan Beringin Jaya, Kecamatan Pagaralam Utara, kemarin (19/8).

Karena tidak cocok lanjut Satar, Atung Bungsu meminta Panglima Liem bersama anak buahnya ke luar dari tanah Besemah. Akan tetapi permintaan itu ditanggapi Panglima Liem dengan keras. Sebab Panglima Liem merasa sudah lama tinggal di Besemah. “Memang, Panglima Liem dan anak buahnya lebih dahulu datang ke Besemah ketimbang Atung Bungsu,” ungkap Satar.

Panglima Liem lantas mengajak Atung Bungsu bertarung. Satu lawan satu. Tujuannya untuk membuktikan siapa yang terkuat di antara keduanya. Atung Bungsu pun menyanggupi. “Pertarungan untuk menentukan siapa yang berhak bertahan dan ke luar dari tanah Besemah,” tutur Satar. Lokasi yang dipilih untuk duel itu adalah di tepi sebuah sungai yang belum bernama. Satar memprediksi sungai itu kini berada di dekat transmigrasi Muara Dua, Kabupaten Lahat.

Maka pertarungan itu dimulai. Dikisahkan Satar, saat bertarung, dua tokoh itu mengeluarkan keahlian beladiri. Puyang Atung Bungsu sebut dia, menggunakan beladiri yang dikenal dengan sebutan cekak. Sementara itu, Panglima Liem menggunakan kuntau. “Pertarungannya berjalan sengit,” lanjut Satar.

Saat itu, meski Panglima Liem mengeluarkan semua kehebatan kuntau miliknya. Demikian pula dengan Atung Bungsu. Akan tetapi kuntau milik Panglima Liem tak bisa mengimbangi cekak milik Atung Bungsu. Beberapakali Panglima Liem terjatuh, karena dibanting Atung Bungsu. Akhirnya Panglima Liem kalah. “Karena kalah, Panglima Liem bersama anak buahnya kabur. Dengan demikian resmi Atung Bungsu menang,” sebut Satar.

Nah, imbuh Satar, lokasi pertarungan antara Panglima Liem dengan Puyang Atung Bungsu langsung terkenal. Warga menyebut nama lokasi itu dengan sebutan Lematung. Singkatan antara Liem dengan Atung. “Lama-lama Lematung jadi Lematang,” urai Satar.

Dijaga Empat Pendekar

Berdasarkan kisah, Panglima Liem bersama anak buahnya kabur ke arah Jarai. Lebih tepatnya ke arah impit bukit jarai. “Panglima Liem dan bersama anak buahnya lama tinggal di situ (Jarai) dan beranak pinak,” ucap Satar.

Bertahun-tahun setelah Atung Bungsu wafat, anak keturunan Panglima Liem masih bercocol di Jarai. Akhirnya anak keturunan Atung Bungsu kembali mendatanginya. Sebab Jarai masih masuk wilayah Besemah. “Akhirnya anak keturunan Panglima Liem ke luar ke Jarai,” bebernya.

Namun lokasi yang dipilih anak keturunan Panglima Liem itu masih dekat dengan wilayah Besemah. Dikhawatirkan mereka sewaktu-waktu masuk lagi ke Besemah, maka penguasa tanah Besemah mengirimkan empat lawang (pendekar). “Kawasan yang dijaga lawang (pendekar) itu di antaranya Ulu Musi dan Ayek Deghas,” ucap Satar.

Tujuannya, agar anak turunan Panglima Liem tak masuk ke Besemah. Empat Lawang itu, terang Satar, menjaga empat wilayah strategis. Akhirnya anak keturunan Panglima Liem ke luar lagi dari pemukimannya. “Keturunan Panglima Liem akhirnya masuk ke wilayah Kepahiang. Di sini mereka diterima dengan baik oleh warga setempat. Mereka berasimilasi dengan suku rejang,” tutur Satar. (11/CE-V)

#baca berita selanjutnya….terbit 20 agustus 2016#

Previous Veteran Kecewa Kurang Diperhatikan
Next Karangan Bunga Peluang Usaha Menjanjikan