Keampuhan Tari Siwar


Foto-foto: dok/Pagaralam Pos/ilustrasi
Foto-foto: dok/Pagaralam Pos/ilustrasi

PAGARALAM POS, Pagaralam – Perjuangan melawan penjajah Belanda di tanah besemah, tak hanya melibatkan kaum pria. Kaum wanita juga ikut memberikan andil cukup besar. Cara kaum wanita besemah tempo dulu dalam menumpas penjajah, salahsatunya dengan tari siwar. Cara ini pun terbukti ampuh.

Anggota Lembaga Adat Besemah, Satarudin Tjik Olah menyatakan, tari siwar pernah digunakan para pejuang untuk menumpas penjajah belanda di besemah. Saat itu kata dia, tanah besemah sudah dikuasai belanda. “Itu terjadi sekitar tahun 1860-an,”tutur Satar, dibincangi di kediaman pribadinya, Simpang Dusun Petani, Kelurahan Beringin Jaya, Kecamatan Pagaralam Utara, kemarin (26/8).

Belanda yang sudah menguasai besemah mengambil kedudukan di Dusun Bandar yang sekarang masuk Kecamatan Dempo Selatan. Di sini, mereka mengadakan semacam pesta. “Saat itu penjajah belanda meminta agar dilayani para gadis-gadis cantik dari besemah,” ucap Satar.

Permintaan itu ditanggapi sebagai peluang oleh para pejuang kemerdekaan besemah. Para pejuang memang merupakan orang-orang yang terus mengadakan perlawanan meskipun sudah dinyatakan kalah oleh Belanda. “Oleh para pejuang dikirimlah sejumlah para penari siwar. Jumlahnya lebih dari dua orang,” lanjut Satar.

Seperti namanya, selain memakai atribut khas tari besemah, para penari juga dilengkapi dengan siwar. Ini salahsatu senjata tradisional khas besemah yang panjangnya sekira 5 cm. Tajam sekaligus berbisa. Siwar ini diletakkan di jari-jari para penari. “Para penari berlenggak-lenggok sembari membawa siwar di jempol tangannya,” terang Satar.

Karena sebuah tarian, penjajah Belanda tidak curiga. Sembari minum minuman keras, mereka menikmati tampilan tarian yang dibawakan para gadis berwajah aduhai itu. “Pas penjajah belanda itu sudah mabuk, para penari siwar mulai melancarkan aksinya,” kata Satar.

Yang tadinya berupa tarian, berubah jadi gerakan menusuk. Dengan gagah berani, para penari siwar menusuki tubuh para penjajah belanda yang setengah sadar dan tidak itu. Walhasil, mereka berjatuhan ke tanah. Tewas seketika. “Sebab, siwar yang dipakai penari itu sudah pilihan. Meskipun kecil tapi sangat berbisa. Tak boleh terkena kulit sedikit pun,” ungkap Satar. (11)

#baca berita selengkapnya…terbit 27 Agustus 2016#

Previous Ringkus Komplotan Jambret
Next Pemerintah Nahkoda Program Kotaku