Jejak-jejak Gotong-royong di Megalit


Foto-foto: Pidi/Pagaralam Pos
RAMAI-RAMAI: Tim arkeolog dibantu pekerja bahu membahu mengangkat salahsatu atap bilik batu yang runtuh, kemarin. Sementara itu, warga dari berbagai dusun memadati lokasi penggalian.

Dibutuhkan Kerjasama untuk Membangun Bilik Batu
PAGARALAM POS, Pagaralam – Budaya gotong-royong memang sudah ada sejak dulu kala. Bahkan di zaman megalitikum (batu besar), budaya tersebut begitu mengakar. Tiap aktivitas warga di zaman itu, tak bisa dilepaskan dari gotong-royong. Dalam pembuatan bilik batu misalnya, dibangun oleh puluhan bahkan lebih orang.




Anggota tim ekskavasi Balai Arkeologi Sumatera Selatan, Tri Wuliarni menyatakan, sebuah bilik batu tidak mungkin dibuat satu orang. Bilik batu merupakan sebuah ruang yang terdiri dari atap, dinding dan lantai. Semua bagian-bagian ruangan itu terbuat dari batu besar yang sangat berat. Secara logika, tidak mungkin satu orang bisa mengangkat serta menyusun batu-batu itu.




“Dibutuhkan 50 orang atau bahkan satu kampung untuk membuat sebuah bilik batu. Itu logikanya. Kalau bicara klenik, itu soal lain,” ujar Tri, ditemui Pagaralam Pos, di sela-sela ekskavasi bilik batu, di kompleks situs Tegur Wangi, kelurahan Pagar Wangi kecamatan Dempo Utara, kemarin (31/3).




Hal itu kata Tri menunjukkan di zaman itu, budaya gotong-royong dan kerjasama sudah ada. “Nanti kita lihat bahwa bilik batu ini dibangun dengan cara gotong-royong,” sambung Tri sembari menunjuk ke salahsatu atap bilik batu yang roboh.




Atap bilik batu roboh lantaran tanah yang menahannya longsor. Sehingga, atap yang tadinya mendatar, menjadi menurun sedemikian rupa. Tim berusaha untuk mengembalikan kondisi atap bilik batu ke posisi semula. Sayangnya, satu atap tersebut rupanya memiliki berat yang mencapai tonan. Enam orang dewasa tak mampu mengangkat atap itu. “Kami pakai derek biar mudah mengangkatnya,” ujar kepala tim ekskavasi Balar Sumsel, Kristantina Indriastuti.




Meskipun sudah pakai derek, dibutuhkan tenaga manusia. Sebuah bambu dibentangkan dari ujung lobang satu ke ujung lainnya. Di tengah-tengah bambu digantungkan rantai untuk menderek. Bilik batu tersebut berhasil diangkat untuk kemudian ditempatkan di posisi semula.




Ditambakan Tri, selain gotong-royong, penemuan bilik batu tersebut juga menunjukkan bahwa masyarakat di zaman itu sudah mengenal kepercayaan. Masyarakat saat itu tidak atheis. “Mereka percaya terhadap arwah nenek moyang akan terus membantu anak dan cucunya,” ucap Tri.




Genjot Kedatangan Wisatawan
PENEMUAN baru berupa bilik batu di kompleks situs Tegur Wangi langung direspon Dinas Pariwisata Kota Pagaralam. Kepala Dinas Pariwisata Kota Pagaralam, Drs Syamsul Bahri Burlian MSi menyatakan, akan mempromosikan temuan baru tersebut agar semakin dikenal mayarakat.




“Tugas kami adalah ‘memasarkan’. Mengemas temuan ini untuk menarik minat wisatawan datang ke Pagaralam,” ucap Syamsul, ditemui Pagaralam Pos, di lokasi penggalian.




Syamsul yakin, dengan promosi yang dilakukan terus menerus dan berkesinambungan, orang-orang dari luar Pagaralam akan penasaran. Nah, dari rasa penasaran itulah timbul keinginan untuk datang guna melihat secara langsung ke lapangan. “Kami akan banyak menggunakan media sosial. Sebab, biasanya dari Medsos-lah, sebuah informasi jadi cepat menyebar,” terang Syamsul. (11)

Previous Berisi Logam dan Tulang Belulang
Next Gedung Tugu Rimau Dirusak