Hektaran Kebun Kubis “Keriting”


PAGARALAM POS, Pagaralam – Cuaca yang tidak menentu beberapa bulan terakhir dan hujan turun tak menentu, mempengaruhi kualitas beberapa jenis sayuran yang akan dipanen petani. Salahsatunya kubis, dimana hektaran kebun kubis di daerah Pematang Bango, Kecamatan Pagaralam Utara diserang hama bambang sejenis kupu-kupu putih, yang membuat kubis menjadi keriting dan mati.

“Jika terserang hama bambang ini, maka kubis yang ada tidak tumbuh, alias mati dan menjadi keriting menguning,” ungkap Bari (53), petani kubis di Dusun Pematang Bango, sambil memperlihatkan kondisi kubis yang keriting.

Serangan hama ini katanya, tak hanya menyerang kebun kubisnya yang masuk masa panen. Akan tetapi menyerang hampir merata di daerah ini. Dipastikan, panen petani hasilnya tidak akan sesuai dengan harapan. Jika yang belum masuk masa panen, akan mengalami rugi besar akibat tanaman tidak tumbuh dengan baik.

“Untuk satu hektar lahan kebun kubis yang modalnya sekitar Rp.1 jutaan, biasanya petani kubis akan memanen sekitar 10 ton kubis, namun jika sudah diserang hama ini, paling banyak petani dapat hasil sekitar 2 sampai 3 ton saja,” beber Bari seraya mengatakan, saat ini harga jual kubis sekitar Rp.2.500/kilogramnya.

Senada diungkapkan Adi (34), salah seorang petani kubis lainnya, tanaman sebagian tanaman kubis daunnya mulai kering, akibat diserang hama bambang.  Tanaman kubis yang baru berusia 1,5 bulan harus diberi pestisida (racun hama) sebagai penangkal dari serangan hama. “Kami berharap instansi terkait dapat melakukan pencegahan dan membantu petani yang ada,” pintanya.

Terpisah, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Ir. Jumaldi Jani MM, melalui Kasi Pengendalian Pengendalian Penyakit Hama Tanaman (PPHT) Encon Isworo mengatakan, pihaknya belum bisa memastikan serangan hama penyakit pada tanaman kubis ini. “Kemungkinan yang merusak tanaman kubis bisa berupa ulat croccy yang menyerang bongkol daun yang dipanen. Serangan ini cukup membahayakan, berpengaruh pada buah yang dipanen. Pengendaliannya susah, karena ulatnya dalam bongkol,” terangnya.

Ditambahkannya, bisa juga akar gadah, sejenis jamur tular tanah yang menyerang bagian akar. Dimana akar menjadi bengkak seperti berumbi. Di bawah jam 10 terlihat layu. “Pencegahan bisa diawali dengan pengapuran sebelum tanam, penyemprotan berupa cairan/trikuderma. Jika diserang bambangan, tanaman hanya rusak pada daun yang terlihat bolong-bolong dan mudah ditanggulangi,” bebernya.

Pihaknya kata Isworo melalui penyuluh pertanian yang ada di setiap kecamatan melakukan penyuluhan terkait cara-cara pencegahan dan penanggulangan sejumlah hama dan penyakit yang ada. “Kita akan menerjunkan tim untuk mengecek serangan hama apa yang menyerang tanaman kubis ini,” pungkasnya. (06/CE-V)

 

Previous Nama Kapolres Dicatut
Next 40 Pejabat Eselon Bakal Dimutasi