Hebatnya Ghumah Baghi Besemah Tahan Gempa, Berbentuk Perahu, Kaya Motif







Foto-foto: Dok/Repro/Pagaralam Pos
BERKARAKTER: Ghumah tatahan adalah rumah adat khas Besemah. Disebut demikian, karena rumah ini memiliki ukiran-ukiran yang khas.

PAGARALAM POS, Pagaralam– Sebagaimana daerah lain, besemah juga memiliki rumah adat. Biasanya, warga menyebut rumah adat besemah itu dengan nama ghumah baghi. Ada pula yang menyebutnya dengan ghumah tatahan. Yang pasti, ghumah baghi besemah menunjukkan bukti bahwa jeme besemah memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi.




Pemerhati budaya besemah, Madi Lani, menyebutkan, ghumah baghi besemah didesain untuk tahan dari goyangan gempa. “Saya sudah melakukan penelitian di lapangan. Ghumah baghi besemah bisa tahan gempa,”tutur Madi, ditemui Pagaralam Pos, di kediamannya, di Gang Rukun, Kelurahan Nendagung, kemarin, (13/1).




Dijelaskan, struktur bangunan ghumah baghi besemah sangat memungkinkan bisa tahan dari goyangan gempa bumi. Salahsatunya bisa dilihat dari tiangnya. Berdasarkan pengamatan Mady, tiang ghumah baghi besemah umumnya tidak dipasak ataupun diikat. Tiang ghumah baghi besemah hanya menempal di atas sebuah batu. Sehingga, ketika gempa bumi, tiang tersebut akan bergerak secara dinamis. “Bergeser-geser saja sedikit. Tapi, tidak roboh,”tuturnya.




Dengan begitu diakui Madi, menunjukkan bahwa tingkat kecerdasan masyarakat besemah tempo dulu sudah sangat tinggi. Masyarakat besemah sudah paham betul cara menyikapi bencana alam seperti gempa bumi. “Masyarakat besemah sudah mengenal rumah tahan gempa lebih dari dari Jepang,”imbuh Madi yang juga seorang sastrawan ini.




Ghumah baghi besemah sendiri memiliki jumlah tiang yang berbeda-beda. Madi menyebutkan, ghumah baghi besemah ada yang memiliki tiang berjumlah seribu buah. Ada pula ghumah baghi besemah yang memiliki 8 tiang saja. “Perbedaan tiang untuk menunjukkan strata ekonomi pemilik rumah,”terangnya.




Masih ada lagi karakteristik yang dimiliki ghumah baghi besemah. Berdasarkan hasil eksplorasi Madi, ghumah baghi besemah sebagian besar berbentuk perahu besar. “Kalau seandainya tiang rumah dilepas, persis sebuah perahu,”sebut Madi.




Ia lantas mencontohkan sebuah ghumah baghi besemah di dusun Gunung Agung Pauh Kelurahan Agung Lawangan kecamatan Dempo Utara. Di sana, kata Madi, ada ghumah baghi yang sudah demikian tuanya. Bentuknya jika dilihat secara mendalam, persis sebuah perahu besar. “Di bagian dalam rumah ada bagian yang disebut buritan. Kan mirip istilah perahu kan,”bebernya.




Mengapa harus berbentuk perahu? Madi memperkirakan, itu lantaran dulu, nenek moyang besemah adalah para pelaut. Meraka tutur Madi, datang ke besemah dengan naik perahu melewati selat dan sungai di Bengkulu Selatan.




Ghumah baghi besemah juga terkenal dengan motifnya. Masing-masing rumah memiliki motif yang beragam. Ada rumah yang bermotif pucuk ghebung. Soal motif ini menurut Madi, memiliki makna yang tersendiri. Motif pucuk ghebung misalnya, dicontohkan dia, menandakan bahwa dulu, pekerja yang membangun rumah dikasih makan dengan menu ghebung atau rebung. Sebuah menu yang berbahan dasar tunas bambu muda.




Meskipun begitu, Mady percaya, bahwa motif di ghumah baghi besemah sudah mendapatkan pengaruh dari budaya luar yang masuk lewat lewat akses perdagangan. Karenanya, bagi Madi, sangat sulit untuk melihat ghumah baghi besemah yang belum terpengaruh budaya luar. “Bahkan kalau mau ditelusuri, motif pucuk ghebung itu merupakan bukti pengaruh budaya melayu tua. Di beberapa rumah adat daerah lain, ada yang memiliki motif seperti itu,”paparnya.




Sempat Diperjualbelikan
Ghumah baghi besemah sempat menjadi objek perdagangan. Beberapa pemilik menjualnya kepada pembeli dari luar besemah. Pembeli tertarik lantaran ghumah baghi besemah memiliki nilai seni yang tinggi. Dampak dari jual beli itu, ghumah baghi besemah sempat terancam punah.




Pemerhati budaya Besemah, Madi Lani menyatakan, jual beli ghumah baghi besemah terjadi sekitar tahun 1990-an. Saat itu, pemilik menjual ghumah baghi besemahnya kepada orang luar. “Ghumah baghi dipreteli satu persatu lalu dijual ke Jawa bahkan ke Bali,”tuturnya.




Madi memperdiksi, itu terjadi lantaran para pembeli dari luar tersebut tertarik dengan motif, ukiran yang tersemat di dinding ghumah baghi besemah. Karenanya, merekan pun rela merogoh kocek untuk membelinya. Karena itu diakui Madi, beberapa ghumah baghi besemah yang sarat nilai sejarah sudah tak ada lagi. Karena itu ia pun berharap, agar ghumah baghi besemah tetap dilestarikan.




Sementara itu, pengamatan Pagaralam Pos di lapangan, ghumah baghi besemah masih bisa dijumpai di berbagai dusun di Pagaralam. Di antaranya di dusun Pelang Kenidai Bumi Agung, Gunung Agung Tengah, Gunung Agung Pauh. Ada ghumah baghi besemah yang masih utuh seperti dulu. Ada pula ghumah baghi yang sudah mendapatkan pengaruh konstruksi bangunan modern.




Motif di Miniatur Tikar
Motif khas besemah bukan hanya ada di ghumah baghi. Menurut pemerhati budaya besemah, Madi Lani, motif ghumah baghi bisa ditemui di biting. “Kalau mau lihat motif khas besemah lihat saja biting,”ucap Madi.




Biting adalah miniatur tikar yang terbuat dengan cara dianyam. Biasanya, biting dijadikan sebagai penutup bake (wadah besar, biasanya untuk menyimpan padi). Ukuran biting sekira sekira 4×1 cm. Biting dihiasi dengan berbagai macam motif yang enak dipandang mata.




Di antara motif di dalam biting itu Madi, adalah, ipangan bajik, sayap bambang, mate lalat, mate punai, bintang bekurung, bintang betabur. Selanjutnya ulat panggang, semut beiring, dan siku keluang.




Nama-nama ini sebut Madi, sesuai dengan bentuk motifnya. Mate lalat misalnya diterang Madi, merupakan sebuah motif yang berbentuk mata seekor lalat. Lalu siku keluang merupakan sebuah motif yang berbentuk siku kelelawar. Motif bintang bekurung yang menggambarkan sebuah bintang di dalam sebuah lingkaran. (11)

Previous Guritan Besemah, Berisi Sejarah, Menggunakan Kalimat Sastra
Next Rahasia Kitab Kaghas Besemah yang Ditakuti Belanda