Harga Tidak Stabil, Tauke Karet Cemas


Foto: Adi/Pagaralam Pos Jual: Salahsatu warga ketika menjual karet pada tauke karet.
Foto: Adi/Pagaralam Pos
Jual: Salahsatu warga ketika menjual karet pada tauke karet.

PAGARALAM POS, Empat Lawang – Harga karet yang tidak stabil membuat para tauke karet cemas dan semakin waspada menyimpan. Pasalnya, bisa terancam rugi besar. Edy (46) salah seorang tauke karet di Sungai Lidi Kecamatan Tebing Tinggi mengatakan, saat ini dirinya dan tauke yang lainnya tidak begitu berani menyimpan karet terlalu banyak.

“Saya tidak berani berspekulasi dengan harga karet saat ini. Sulit membaca harga karet. Banyak isu harga karet akan naik, namun sampai saat ini yang ada malah semakin menurun,” ujar Edy saat dibincangi koran ini, Sabtu (27/2).

Menurut Edy, lebih baik mendapat untuk yang sedikit dari pada mengalami kerugian, karena dirinya membeli karet dengan para petani dengan harga yang bervariasi. “Harga karet yang kami beli dengan petani bervariasi, ada yang Rp4.000 ada juga yang mencapai Rp4.500. tergantung dengan kualitas karetnya,” bebernya.

Edy mengungkapkan, dengan modal yang terbatas dirinya harus memutar otak agar modal yang dimilikinya bertambah. “Jika karet sudah mencapai 2 ton saya lebih memilih langsung membongkar karet (dijual, red). Karena jika tidak, saya tidak bisa kembali membeli karet dengan petani karena modal terbatas,” ungkap Edy yang juga berbisnis buah-buahan, seperti durian dan manggis.

Sementara itu, Toyib (63), tauke karet Desa Pajar Bakti, Kecamatan Tebing Tinggi menjelaskan, jika membeli karet dengan petani harus jeli, karena karet mengalami susut. “Yang perlu diketahui, karet itu memiliki susut. Jadi saat membeli karet dengan petani harus memotong berat karet. Misalkan berat karet itu 40 kg, nah lihat kadar air, jika kadar air cukup banyak harus dipotong 6 kg. Jika tidak dipotong bisa-bisa saat menjual kembali karet tersebut bisa mengalami kerugian,” jelas Toyib yang sudah puluhan tahun berbisnis karet.

Dirinya juga mengingatkan, tidak sedikit petani karet itu nakal. Karena ada yang mencampur karetnya dengan tanah dan kulit pohon karet. “Periksa juga jenis karetnya, karena banyak cara yang dilakukan petani agar berat karet miliknya bertambah. Misalnya dengan mencampur karet dengan tanah, daun-duanan dan kulit pohon karet. Karena jika dijual di pabrik, harga karet yang banyak tatal (campuran, red) harganya murah, bahkan ada pabrik yang tidak mau membeli karet yang terlalu banyak campuran,” tandasnya. (07/CE-V)

 

Previous Syahril Pertanyakan Alasan Penundaan TPP
Next Kemenag Jemput Bola Pembuatan Paspor