Guritan, Seni Sastra Lisan Besemah


Foto: Dok/Pagaralam Pos BERBUDAYA TINGGI : Pagaralam dikenal sebagai kota yang memiliki budaya yang beraneka ragam. Satu di antaranya seni sastra lisan
Foto: Dok/Pagaralam Pos
BERBUDAYA TINGGI : Pagaralam dikenal sebagai kota yang memiliki budaya yang beraneka ragam. Satu di antaranya seni sastra lisan

Rombongan dusun laman nga panitia persedekahan la ade penggawehan.

La banyak ayam abang nde tekangkang. Ayam jagok dek tahu agi merokok la mati pule ayam daghe.

Jeme begaweh tukang bubut la beghebut manggang puput.

Ade ndek bengkelan makan, ade ndek bekatugh-bekatugh li banyak makan ghebusan telugh.

BELUM 5 menit Yanwari membacakan guritan, suasana di bawah tenda beratap besar itu, sudah heboh. Padahal, guritan itu masih banyak sambungan di bawahnya. Para warga nampak tak kuasa menahan tawanya. Di pojok bangsal, ada warga yang tertawa ngakak sampai-sampai kursi tempat duduknya bergerak-gerak. Di tengah bangsal, ada lagi warga yang tertawa sembari memegang perutnya. Di kursi barisan paling depan, ada warga yang hanya tersenyum-senyum sendiri. Nun di pelaminan, sepasang pengantin sebenarnya berusaha tampil kalem. Namun dari wajahnya, sudah tampak bahwa mereka sebenarnya sedang menahan tawa.

Ketika Yanwari melanjutkan guritannya, warga yang berada di jauh bangsal, jadi mendekat. Yang sudah dekat tambah merapat. Yang sudah merapat berdiri.Maka, suasana bangsal yang berada persis di halaman rumah itu padat. Sesekali terdengar suara Yanwari yang ditimpali tawa para warga. Berderai-derai.

Hari itu, di dusun Gunung Agung Tengah memang ada resepesi pernikahan. Empunya hajatan memohon agar Yanwari menembangkan guritan di depan para tamu dan undangan di dalam tenda. “Karena diminta, ya saya iyakan saja. Buat hiburan,”tutur Yanwari ketika menceritakan kisahnya bertembang guritan, kepada Pagaralam Pos, kemarin, (28/10).

Menurut Yanwari, guritan yang dibawakan ke dalam arena persedekahan bertujuan untuk menghibur para tamu, undangan maupun empunya hajatan. Karena itu, kata dia, guritan berisi tentang seputar proses persiapan persedekahan dari awal sampai akhir. “Saya namakan guritan sedekah,”terang ayah 5 anak dan kakek dari 13 cucu ini.

Karena itu tak perlu heran. Bila dalam bait-bait guritan yang dibawakan Yanwari tadi, masuk ayam abang, telugh hingga mbubut. Sebab, itu merupakan bagian dari prosesi persiapan sedehan ala warga besemah. “Kalau yang tugasnya di dalam sedekah mbubut ayam , sudah tertawa sendiri ketika mendengar guritan,”imbuh mantan Kades Gunung Agung Tengah ini.

Yanwari melanjutkan, selain di persedekahan, guritan juga bisa dibawakan di saat ada musibah. Misalkan dicontohkannya pada saat musibah. Hanya terang dia, isi daripada guritan untuk musibah itu berbeda dari yang diperuntukkan bagi persedekahan. “Kalau ada musibah seperti meninggal dunia, guritan lebih banyak berisikan pesan moral. Agar ahli musibah tetap sabar dan tabah,”ulasnya.

Lebih lanjut dijelaskan, guritan untuk musibah biasanya dilaksanakan pada malam hari, sebelum pelaksanaan yasinan ke-40 hari. Waktu pembacaan guritan adalah malam hari ketika yasinan selesai. “Guritan dibawakan di dalam rumah. Yang mendengarnya adalah para ahli musibah ataupun para petakziah,”tuturnya.

Harus Dilestarikan

Sampai dengan saat ini Yanwari selalu siap jika diminta untuk membawakan guritan. Pagaralam Pos berkesempatan untuk mendengar guritan yang dibawakan Yanwari. Suaranya merdu. Panjang dan jelas. Dia pintar memilih kata-kata yang ringan tapi memikat hati. Setiap kata itu dibawakan dengan nada tertentu. “Membawakan guritan itu harus tahu dulu. Mana kalimat yang harus dibawakan dengan cepat, lambat dan bernada,”terangnya tentang cara belajar guritan. “Kalau tidak cepat di awal, takutnya di bagian akhir suaranya akan jadi fals,”katanya pula.

Karena itu diakui Yanwari, tidak mudah untuk bisa membawakan sebuah guritan. Yanwari sendiri butuh proses yang panjang untuk dapat membawakan sebuah guritan. Itu dimulai ketika Yanwari masih kecil. Saat itu kenang Yanwari, dirinya mendengar guritan yang dibawakan oleh seorang tokoh dusunnya. “Saya mendengar guritan itu malam hari,”kenangnya.

Setelah mendengar, Yanwari makin tertarik. Dia pun terus belajar dan belajar. Maestro guritan ia datangi. Maka ia pun sukses menguasai guritan. Penampilan Yanwari pertama membawakan guritan adalah di dusun Kerinjing. Saat itu ada sebuah acara yang melibatkan orang banyak. Dari situlah, nama Yanwari sebagai pembawa guritan mulai dikenal luas, sampai kini.

Sayangya, di usianya yang saat ini, Yanwari tengah dilanda kekhawatiran. Dia khawatir, guritan akan punah. Indikasinya sebut dia, tidak banyak anak muda yang mau belajar dan berlatih menyampaikan guritan. Karena itu ia berharap, agar Pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap guritan. Yanwari menyatakan, ia siap untuk mengajari anak muda yang ingin belajar guritan. “Kalau disiapkan tempatnya, dan orang yang belajar itu ada, saya siap,”tegasnya.

Di ruangan tamu itu, Yanwari lantas melantukan lagi sebuah guritan. Kali ini guritan bercerita tentang keindahan bumi besemah, Kota Pagaralam. (11)

#baca berita selengkapnya…….terbit 29 Oktober 2016#

Previous Cegah Cerai, Catin Diberikan Pembinaan
Next Prona Disinyalir Ajang Pungli