Gitar Kepudang dengan Sembilan Lipatan


Foto-foto: Pidi/Pagaralam Pos
CIRI KHAS : Mady Lani mempraktekkan cara membentuk sebuah kain menjadi gitar kepudang. Diikat di kepala membuat yang memakai gitar kepudang nampak berwibawa.

Nisan Makam Puyang Depati

Bukan Kasta, Tingkat Sembilan untuk Sufi
Palembang punya ikat kepala yang diberinama tanjak. Di Bali ikat kepalanya bernama udeng. Di besemah juga begitu, gitar kepudang namanya yang dipakai oleh kaum lelaki. Terdiri dari 9 lipatan, tak mudah mencapai tingkat terakhir.




PONSEL pintar Mady Lani berdering. Di ujung sana terdengar suara orang bertanya. “Di kantor Pagaralam Pos,” ucap Mady kepada orang yang menelponnya. Belum lewat lima menit, orang yang menelpon Mady sudah berdiri di depan pintu kantor Pagaralam Pos. Arkiansyah SPd, nama orang itu.




Di sore (1/5) yang sejuk itu, Mady memang bertamu ke Kantor Pagaralam Pos. Setelannya santai. Celana pendek, berkaos dan bertas selempang. Dia pun berjumpa dengan sohibnya- sesama satrawan-Efvhan Fajrullah SPd. “Kantor Forpa (Forum Pecinta Alam) tak ada orang. Jadi mampir dulu ke sini,” ujar Mady perihal kedatangannya, kepada Bang Vhan-panggilan akrab Efvhan Fajrullah. Kantor Forpa memang jadi rumah ‘kedua’ bagi Mady. Kebetulan antara Kantor Pagaralam Pos dan Forpa tidak terlalu jauh, hanya sepelemparan batu.




Adapun Arki datang dengan maksud lain. “Saya ingin belajar membuat gitar kepudang dengan Kak Mady,” ucap Mady. Lelaki asal dusun Kerinjing ini memang serius ingin belajar. Saat datang dia membawa satu kantong besar yang berisi kain songket. Dia lalu mengeluarkan sehelai kain songket yang berwarna merah marun itu. “Kalau bukan kita, lalu siapa lagi yang mau belajar membuat gitar kepudang,” lanjut Arki, memberikan argumen.




Mady pun tersenyum mendengarnya. Dia lantas meminta gunting, benang dan jarum jahit. Fungsi gunting untuk menggunting kain songket menjadi dua buah helai berbentuk bujur sangkar. “Sebenarnya gitar kepudang itu aslinya terbuat dari kulit kayu. Tapi, untuk belajar, tidak apa-apa dari kain,” ucap Mady seraya mengunting kain songket yang dibeli Arki di pasar 16, Palembang itu.




Dua helai kain berbentuk bujur sangkar itu masing-masing dilipat. Mady melipat kain yang satunya menjadi bentuk segitiga. Adapun Arki mengikuti bentukan itu di helai kain satunya lagi. Langkah selanjutnya adalah membuat lipatan. Menurut Mady, lipatan Mady Lani tak boleh sembarangan. “Kalau untuk orang umum, lipatan 3 saja,” ujarnya.




Selain dilipat 3, gitar kepudang bisa dilipat menjadi 5, 7 dan 9. Semuanya bilangan ganjil. Dijelaskan Mady, gitar kepudang dengan lipatan berjumlah 3 diperuntukkan untuk rakyat biasa. Karenanya pada dasarnya gitar kepudang dengan lipatan berjumlah 3 sifatnya netral, artinya bisa digunakan siapa saja. Selanjutnya gitar kepudang lipatan 5, biasa digunakan oleh pejabat menengah seperti lurah. Adapun lipatan 7 digunakan untuk pejabat tinggi seperti walikota. Adapun gitar kepudang dengan jumlah lipatan 9 untuk orang-orang yang sudah sangat dekat Tuhan. Ilmu agamanya sudah tinggi. “Sekelas sufi,” tutur Mady, tentang peruntukan gitar kepudang dengan lipatan berjumlah 9.




Kasta kehidupan? Mady cepat-cepat menjelaskan, bahwa itu merupakan filosofi penggunaan gitar kepudang. Bukan kasta, alias perbedaan golongan masyarakat seperti dalam tradisi hindu.




Tak beberapa lama, gitar kepudang karya Mady kelar. Untuk memperkokoh bentuk, dia menjahit beberapa sisi dengan benang. Setelah itu dia memakainya di kepala. “Gitar kepudang itu diikat di bagian belakang, bukan di depan,” ucapnya.




Bagian depan gitar kepudang berupa lekukan. Salahsatu ujung lekukannya menghadap ke arah kanan. Lekukan inilah yang mengilhami penamaannya menjadi kepudang. Adapun gitar, kata Mady, “Karena bentuknya mengitari kepala,”. Jadilah ikat kepala ini bernama lengkap gitar kepudang.




Arki manggut-manggut. Mahasiswa progam pascasarjana dengan konsentrasi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia Universitas PGRI Palembang ini, lantas mencoba memakai gitar kepudang itu di kepalanya. “Kalau ikatannya kendur, itu cirinya masih bujang. Kalau kencang, itu sudah berkeluarga,” ucap Mady.




Ratusan Tahun
Satarudin Tjik Olah masih ingat dengan penampilan seorang pesirah. Saat itu, Satar melihat pesirah tersebut memakai seragam yang khas. Kepala pesirah itu seingat Satar ada kain diikat dengan kain. “Saya yakin benar itu adalah gitar kepudang,” ujar Satar yang kini sudah berusia lebih dari 60 tahun, ketika dihubungi Pagaralam Pos, Kamis malam (4/5).




Karena itu, Satar sangat yakin, gitar kepudang sudah ada sejak dulu. Dia memperkirakan, pada abad 16, gitar kepudang sudah dipakai. Anggota lembaga adat besemah ini membenarkan bila gitar kepudang memiliki 9 lipatan. “Tapi, yang umum dipakai adalah gitar kepudang yang lipatan dalamnya berjumlah 3,” tuturnya. Adapun mengenai makna tiap lipatan, Satar mengaku kurang paham. Sebagian lagi sudah lupa.




Soal usia gitar kepudang, Mady punya bakti yang diklaimnya sahih. “ Saya dikasih gitar kepudang yang umurnya sudah mencapai 105 tahun,”ujarnya. Ia memperkirakan, gitar kepudang itu dibuat pada 1912 lalu.




Bukti lain, dilanjutkan Mady, bisa dilihat di makam puyang Depati, di dusun Keban Agung, kelurahan Ulu Rurah kecamatan Pagaralam Selatan. Di sana, disebutkan Mady, ada nisan yang memiliki ukiran seseorang yang memakai gitar kepudang di bagian kepalanya. “Itu merupakan tanda bahwa yang dimakamkan di situ adalah orang yang berjabatan tinggi saat itu,” sambung Mady.




Pagaralam Pos sempat memantau makam puyang yang dikatakan Mady itu, beberapa bulan lalu. Jika dilihat sekilas, gitar kepudang yang disebutkan Mady diukir di nisan memang tak akan tampak. Namun bila dilihat dengan seksama dan pelan-pelan, memang ada semacam benda yang melilit kepala orang yang ada di ukiran nisan. Warna gitar yang terukir di situ dikasih warna yang mencolok, kecoklat-cokelatan.




Perlu Komitmen Kuat, Ajukan Hak Paten
MUNGKIN generasi muda di Pagaralam sekarang banyak yang tidak tahu tentang gitar kepudang. Nama tanjak bisa saja lebih familiar di telinga mereka. Jika terus dibiarkan, gitar kepudang akan lenyap di makan zaman.




Namun, Dr Suhardi masih sangat yakin, gitar kepudang bisa lestari sekaligus populer sebagaimana tanjak Palembang. Dosen pada program pascasarjana dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sriwijaya (Unsri) ini menyatakan, perlu komitmen yang kuat agar gitar kepudang tak lekang. “Dimulai dari pejabat sampai ke rakyat harus memiliki komitmen yang kuat,” ucap Suhardi, dihubungi Pagaralam Pos lewat aplikasi WhatsApp, Rabu malam (3/5).




Peraih gelar doktor dengan desertasi tentang guritan besemah ini pun memberikan caranya. Cukup sederhana, namun bisa dilakukan saat ini. “Dipakai pada acara-acara resmi. Seperti dalam kegiatan adat dan pemerintahan di Besemah. Termasuk acara adat keluarga: nikah, sunat, aqikah, haji dan lain-lain,” urai Suhardi.




Arki sendiri punya tujuan dengan gitar kepudang. Ia mengaku ingin menjadikan gitar kepudang itu semacam bingkisan bagi konsumen yang membeli bubuk kopinya. Ya, Arki merupakan seorang pengusaha bubuk kopi dalam kemasan. Produknya disebut-sebut sudah merambah pasar luar Pagaralam. “Saya ingin memperkanalkan gitar kepudang. Besemah punya ikat kepala. Nanti saya akan tunjukkan dengan dosen pembimbing tesis saya,” katanya pula.




Di bagian lain, pemakaian gitar kepudang sudah dilakukan di Hotel dan Villa Gunung Gare (saat masih dibawah manajemen Besh Hotel). Dari direktur sampai karyawan, terutama yang laki-lakidi hotel ini memakai gitar kepudang. Mereka memakai gitar kepudang dari bahan kain dengan lipatan dalam berjumlah 3.




Bagi Mady, gitar kepudang bukan harus dipakai oleh orang besemah saja. Kata dia, orang luar yang mau memakai gitar kepudang tidak jadi masalah. “Justru kami merasa bangga bila ada orang luar besemah mau memakai gitar kepudang,” ujarnya.




Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) kota Pagaralam, Drs Marjohan MPd, mengatakan, pihaknya sudah mengajukan hak paten untuk gitar kepudang. Hak paten ini disebutkannya, diajukan ke Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) RI. “Mudah-mudahan pengajuan itu disetujui,”ujar Marjohan, ketika dihubungi lewat WhatsApp, kemarin petang, (5/5). (11)

Previous Sehari 10.000 Kubik Tinja Dapat Diolah
Next Pasar Nendagung Kurang Diminati