Cerita AKP Jalaludin Ketika Merazia Miras






Dinyatakan Hilang, Masih Sempat Buka WA

AKP Jalaludin boleh dibilang sebagai Kapolsek yang berani. Berani menegakkan hukum. Selasa dinihari (4/10), Jalal bersama aparat lainnya menggelar razia minuman keras (Miras) di Dusun Cawang Baru. Sayang, razia ini sempat menimbulkan kericuhan. Nyawa Jalal nyaris melayang.
————————————–
PIDI RAHMANSYAH, Pagaralam

————————————–

“Saya hampir matek,” kata Jalal, ketika dijumpai Pagaralam Pos di sebuah warung di depan Graha Pena Pagaralam Pos, Jalan S Parman, Selasa sore (4/10).




Memang, Jalal masih nampak trauma dengan peristiwa yang baru dialaminya di Dusun Cawang Baru. Bagaimana tidak, Jalal sempat dikejar-kejar ratusan massa. Ini setelah Jalal bersama aparat gabungan Polsek Dempo Utara dan Polres Pagaralam menggelar razia Miras di dusun itu. “Awal razia berjalan lancar. Orgen (organ tunggal) pun sudah berhenti,” tutur Jalal mulai bercerita. “Banyak botol Miras kita sita,” katanya pula.

Jalal tidak sendiri dalam merazia Miras itu. Dari Polsek Dempo Utara, turut mendampingi dua petugas Reskrim, yakni Bripka Adi Bastomi (Kanitreskrim), Brigpol Citra (anggota Reskrim). Mereka dibantu aparat Polres Pagaralam, diantaranya AKP Kaifani, Brigpol Son Muri, dan Brigpol Harun. “Dua lagi saya lupa namanya,” imbuh Jalal.




Botol-botol Miras dari bermacam merek itu lantas digotong masuk ke dalam mobil patroli. Di dalam mobil patroli, ada AKP Kaifani dan satu polisi lainnya. Setelah itu, Jalal bergegas masuk ke dalam mobil avanza hitam yang dikemudikan Bripka Adi Bastomi. Mobil ini berada di tepi pertigaan jalan Dusun Cawang Baru, dekat sebuah tugu. Bersamaan dengan itu, ratusan massa bergerak mengepung mobil itu. “Pas saya coba masuk (mobil), baju saya ditarik ke belakang,” ungkap Jalal.

Tubuh Jalal terjengkang. Dia cepat bangkit dan berlari menjauhi mobil yang sudah terkepung massa. Dia berlari menyusuri jalan curam menuju RT 03. Namun di depan Jalal, ada lima orang yang juga berlari. Uniknya, kelima orang ini tak menghiraukan keberadaan Jalal di belakangnya. Memang, malam itu, Jalal memakai jaket hitam, sehingga seragam polisinya tak kelihatan dari luar. Ketika lima orang itu mengajaknya terus berlari, Jalal hanya menyahut sekenanya. “Teruslah, saya mau istirahat dulu,” tutur Jalal.




Lantas, Jalal teringat dengan salahseorang petugas yang turut bersamanya lari. Nama petugas itu adalah Harun. Maka Jalal kirim SMS kepada Harun. “Kaba masih hidup Run,” tulis Jalal dalam SMS-nya kepada Harun. Tak lama, Harun mengabarkan bahwa ia bersenyembunyi di belukar kebun kopi. “Tahu dia (Harun) selamat, saya lega,” lanjut Jalal.

Jalal sadar sembunyi di dalam drainase bukan pilihan tepat. Bersamaan dengan itu, Pintu depan sebuah rumah di tepi jalan terbuka. Seorang lelaki nampak ke luar. Melihat kesempatan ini, Jalal lantas ke luar dari drainase menuju lelaki itu. “Saya bilang saya polisi. Tolong masukkan saya ke rumah,” kata Jalal, menirukan perkataannya kepada warga yang bernama Santo itu.




Santo jelas terkejut. “Setelah sedikit tenang saya jelaskan kepada warga itu tentang peristiwa yang baru saja terjadi,” katanya. Pemilik rumah akhirnya paham.

Pilihan Jalal berlindung di rumah itu sudah tepat. Sebab, tak lama dia di rumah tiu, suasana di luar kembali ramai. Di dalam rumah itu, Jalal lalu membuka aplikasi WhatsApp (WA). Di situ Jalal mengetahui, bahwa dirinya dinyatakan hilang. “Di WA ramai. Dibilang Jalal hilang. Hp-nya mati,” ucap Jalal menirukan bunyi pesan WA di androidnya.




Setelah yakin situasi di luar sana sudah aman, Jalal meminta diantar ke Polsek Pagaralam Utara. “Saya di antar makai motor. Saya duduk tengah diapit pemilik rumah tadi,” ucap Jalal.

Bagaimana dengan Harun? Belakangan, Jalal mengetahui bahwa Harun berhasil ke luar dusun Cawang Baru setelah dijemput oleh petugas Pol PP. “Yang jelas Harun juga selamat. Tapi, masih ada satu lagi anggota yang saat itu, tidak saya ketahui arahnya berlari,” ucap Jalal. Sedangkan mobil patroli yang diisi AKP Kaifani juga berhasil ke luar Dusun Cawang Baru sesaat setelah kericuhan merebak.




Meskipun masih trauma, tapi Jalal tidak patah arang untuk menegakkan hukum. Dia menegaskan, akan terus memerangi kejahatan. “Saya cuman menegakkan hukum,” tegasnya. Akhir perbincangan dengan Jalal sore di warung itu, beriringan dengan habisnya sepiring kue bolu. Memang, sang empunya warung sangat baik hatinya. (**)

Previous Komplotan Bandit Sapi Resahkan Warga SP 6
Next Rancang Draf Perwako Pemasangan Alat Publikasi