Cerita Ahmad Nurbuat (17) yang Tersesat 12 Jam (1)


Foto : Pidi/Pagaralam Pos
SEHAT DAN SELAMAT : Ahmad Nurbuat (kiri) bersama ayahnya Riyono.

Dipandu Azan Subuh, Isi Perut dengan Pisang
Selama hampir 12 jam lamanya Ahmad Nurbuat (17) berjalan kaki tak tentu arah. Ia kemudian berhasil mencapai pemukiman penduduk. Bagaimana ceritanya? Berikut penuturan siswa kelas XII IPS SMA Negeri 1 Pagaralam ini kepada Pagaralam Pos.

Pidi Rahmansyah, Mirco Andreal -Sidorejo

BEGITU membuka mata, Ahmad Nurbuat tersentak kaget. Malam itu (20/11), Ahmad mendapati dirinya tergolek di suatu tempat yang tak dikenalnya. Gelap. Tak ada cahaya samasekali. Di atas sana hujan mulai turun rintik-rintik. Ahmad menggigil kedinginan.




Ahmad cepat-cepat bangkit. Ia memeriksa kondisi tubuhnya. Tak ada yang sakit atau terluka. Pakainnya masih melekat di badan; celana hitam, baju koko. Sebuah peci hitam juga masih tersampir di kepalanya. Yang tak ada lagi adalah jaket warna ungu. Ia kemudian merogoh kocek untuk memeriksa telepon pintarnya. Ada. Ia tekan aplikasi senter untuk menerangi tempat sekelilingnya. Jarum jam di telepon pintar ini menunjukkan pukul 18.30 WIB.




Meskipun remang-remang, Ahmad bisa melihat bahwa dirinya tengah berada kebun kopi. “Kok, saya bisa di sini,”ujar Ahmad kebingungan, ketika menceritakan kembali pengalamannya itu kepada Pagaralam Pos di kediamannya di Gang Matahari V kawasan Sidorejo RT/RW 16/6 Kelurahan Sidorejo Kecamatan Pagaralam Selatan kemarin (21/11).




Ahmad mencoba-coba mengingat kejadian sebelum ia terdampar di sana. Ia teringat sepeda motornya yang tak tahu di mana posisinya lagi. Bulu kuduk Ahmad merinding manakala mengingat peristiwa pembegalan motor yang belum lama ini terjadi. Ia khawatir dirinya menjadi korban pembegalan yang sedang dikejar-kejar pelaku. Maka, saat itu juga dia berjalan meninggalkan lokasi itu. Tekadnya sudah bulat. “Yang saya khawatirkan, ada orang yang tiba-tiba melukai saya dari arah belakang,” ucapnya.




Sementara di Gang Matahari V Sidorejo, Riyono gelisah bukan main. Lelaki 58 tahun ini mendapati anak bungsunya Ahmad Nurbuat tak pulang-pulang ke rumah. “Biasanya, kalau zuhur atau asyar sudah di rumah. Ini sudah sore, tapi tak pulang-pulang,” ucap Riyono. Malam datang, Ahmad tak kunjung pulang. Maka, bersama istrinya Mariana (44), Riyono memutuskan untuk mencari Ahmad.




Malam itu juga tersiar kabar motor Vario bernomor polisi BG 6444 PL yang dikemudikan Ahmad ditemukan tergeletak di tepi jalan di kawasan Pajar Tinggi, Kecamatan Pajar Bulan Kabupaten Lahat. Bertambah was-waslah Riyono dan istrinya, apalagi pemilik kendaraan itu tak ada di tempat. Esoknya (21/11), setelah sholat subuh di masjid, Riyono dan Mariana bergegas mencari Ahmad lagi.

Minim Penerangan
Menerobos kebun kopi dan sesekali semak belukar pada malam hari tanpa arah, bukanlah perkara mudah. Minim penerangan. Ditambah kontur tanah yang kadang menurun, kadang mendaki. Plus hujan serta perut yang keroncongan. Di sebuah lokasi, Ahmad terduduk lemas. “Saya baru berhenti kalau kaki ini sudah sangat pegal,” ucap Ahmad lirih. Toh, dia kembali bangkit dan jalan terus.




Belum lama berjalan, daya baterai telepon habis. Ikut padam pulalah aplikasi senter itu. Suasana jadi gelap kembali. Tak ada lagi penerangan yang dapat diandalkan Ahmad. Di atas sana langit masih gelap. Juga Ahmad, menjadi tak tahu jam berapakah hari itu. Toh Ahmad menyeret kakinya terus. Area perkebunan kemudian berganti menjadi persawahan. Di pinggir pematang, Ahmad melihat buah pisang. Ia ambil tiga biji pisang yang masih berwarna hijau itu lalu dimakan. “Rasanya pahit asam-asam seperti itu,” ucap Ahmad.




Azan Subuh terdengar lamat-lamat. Ahmad girang bukan main. Ia yakin, bila ada adzan, maka pemukiman penduduk sudah dekat. Ia benar. Belum terlalu jauh berjalan, terhamparlah aspal jalan yang membelah Dusun Pagar Kaya. Ia mengetuk daun pintu seorang rumah penduduk setempat. Hamzah, nama penduduk itu merasa kasihan dengan Ahmad dan lalu mempersilahkannya masuk ke rumah. Dari sinilah, informasi keberadaan Ahmad sampai ke telinga Riyono dan Marina. Mereka lalu menjemput Ahmad.




Sekitar pukul 07.00 WIB kemarin, dari Dusun Pagar Kaya, Ahmad dibawa ke RSD Besemah untuk mendapatkan perawatan. Pukul 08.30 WIB, Ahmad sudah berada di rumah. “Alhamdulillah, anak saya sehat. Tak kurang suatu apapun,”kata Riyono yang sehari-harinya disapa Ganden ini, penuh rasa syukur. (Bersambung)

Previous Wako - Kapolres Patroli Kamtibmas Bersama
Next Hanya untuk Belanja Beras dan Telur