Biduan Digorok, Bujangan Gantung Diri


Foto-foto: Brigpol Prisly for Pagaralam Pos TRAGIS: Husmawati alias Hus (35), ditemukan tewas di tepi sungai Cawang. Sementara itu, Yudi (20), ditemukan tewas gantung diri di bawah jerambah gantung dusun Tegur Wangi Lama. Nampak warga berkerumun di dekat TKP.
Foto-foto: Brigpol Prisly for Pagaralam Pos TRAGIS: Husmawati alias Hus (35), ditemukan tewas di tepi sungai Cawang. Sementara itu, Yudi (20), ditemukan tewas gantung diri di bawah jerambah gantung dusun Tegur Wangi Lama. Nampak warga berkerumun di dekat TKP.

PAGARALAM POS, Pagaralam – Warga Pagaralam dibikin gempar. Dalam satu hari (5/12), dua peristiwa tragis terjadi di lokasi berbeda di wilayah kecamatan Dempo Utara. Di Dusun Cawang Lama, Kelurahan Muara Siban, sekitar pukul 13.00 WIB, Husmawati alias Hus (35), ditemukan tewas mengenaskan, dengan leher nyaris putus. Tubuh wanita yang kesehariannya berprofesi sebagai biduan OT (organ tunggal) ini, ditemukan di tepi sungai Cawang. Tak berselang lama, sekitar pukul 16.30 WIB, Yuda ditemukan tewas gantung diri di sebuah kebun salak, dekat jembatan gantung dusun Tegur Wangi Lama, Kelurahan Pagar Wangi.

Dua korban ini sendiri diketahui bukanlah penduduk kota Pagaralam. Hus diketahui merupakan warga Air Jernih, Kecamatan Muara Pinang, Kabupaten Empat Lawang. Sedangkan Yuda merupakan warga dusun Kota Raya Darat, Kecamatan Pajar Bulan, Kabupaten Lahat.

Bagaimana ceritanya? Informasi yang dihimpun Pagaralam Pos dari tempat kejadian perkara (TKP) menyebutkan, mayat Hus pertamakakali ditemukan oleh Efran (44), warga dusun Cawang lama. Saat itu Efran hendak berjalan menuju pondoknya, guna beristirahat sejenak sehabis membersihkan kebun. Lalu dari kejauhan dia melihat sesosok tubuh memakai memakai celana jins berbaju merah, berposisi setengah tertelungkup. Persisnya di bawah pohon basia yang berjarak sekitar 1 meter dari sungai Cawang. Semula Efran tak terlalu menghiraukannya. “Awalnya saya pikir orang itu hanya tidur,” ucap Efran saat ditemui Pagaralam Pos di kediaman pribadinya.

Tapi, Efran kembali berpikir. Dia heran mengapa ada orang yang mau tidur-tiduran di lokasi yang sunyi. Penasaran, Efran memberanikan diri untuk menegur orang tersebut. Namun yang ditegur tak kunjung bersuara. Efran lalu bergerak lebih dekat. “Pas saya lihat lebih dekat ada ceceran darah di sekitar tubuh. Orang itu juga tak bergerak-gerak lagi,” ungkapnya. “Orang itu berjenis kelamin wanita. Sebab di telinganya ada anting-anting,” tambahnya. Di sekitar TKP, Efran juga melihat sebuah cutter yang masih berlumuran darah tertancap di dalam tanah.

Kaget, Efran lalu bergegas melaporkan peristiwa itu kepada bapaknya Nawari (70). Mendapati informasi ini Nawari berpesan kepada Efran untuk tidak mengutak-atik tubuh korban. “Sebab, kita tidak tahu orang itu meninggal karena apa. Lebih baik polisi saja yang menanganinya,” ucap Nawari yang kemudian melaporkan penemuan anaknya itu ke Polsek Dempo Utara, di dusun Bumi Agung.

“Ini adalah pembunuhan,” ucap Kapolres Pagaralam, AKBP Hendra Gunawan SIk MSi, ditemui di ruangan visum instalasi jenazah RSD Besemah. Hendra memastikan, pihaknya akan mengusut tuntas kasus pembunuhan tersebut, sehingga bisa ditemukan pelakunya. Untuk itu pihaknya memintai keterangan rekan-rekan seprofesi dengan korban.

Sering Berjalan Kaki
Bagaimana dengan peristiwa gantung diri? Informasi yang dihimpun dari TKP menyebutkan, korban Yuda ditemukan pertamakali oleh Winsi, warga dusun Tegur Wangi Lama. Hari itu, berdasarkan keterangan warga, Winsi hendak melihat kebun salaknya. Kebun ini berada persis di bawah jerambah gantung. Belum lama masuk kebun, Winsri melihat tubuh seseorang di sela-sela pepohonan kayu jati. Merasa curiga, Winsri lalu mendekat. Saat sudah dekat Winsri dibuat terkaget-kaget. Di depannya ada sesosok tubuh yang dengan kondisi mengenaskan. Sebuah tali jemuran berwarna biru melingkar di leher Yuda. Tali ini dihubungkan ke pohon jati. Inilah yang membuat posisi tubuh Yuda tergantung di pohon jati dengan lidah terjulur. Di sekitar tubuh korban juga terdapat barang-barang. Diantaranya sepasang sendal berwarna orange dan jaket.

Mendapati kondisi ini, secara spontan Winsri berteriak meminta pertolongan. Tak lama, puluhan warga berbondong-bondong mendatangi TKP. Demikian pula dengan Polsek Dempo Utara. Akhirnya, tubuh Yuda berhasil dievakuasi untuk kemudian dibawa ke RSD Besemah. Divisum.

Apakah ada dua peristiwa tragis itu ada hubungannya? Kapolsek Dempo Utara, Iptu Jalaludin memastikan, kedua peristiwa itu tak ada hubungannya sama sekali. “Yang di Cawang Lama itu pembunuhan. Sedangkan di Tegur Wangi murni gantung diri. Jadi tidak ada kaitannya,” terang Jalal di balik telepon genggamnya. Jalal menambahkan, Jenazah Yuda saat ini sudah dibawa ke rumah duka, di dusun Kota Raya Ilir. (11/CE-V)

 

Previous Patroli Gowes, Pantau Titik Rawan Lalin
Next Deka: Semua Petugas Sedang Bekerja