Begareh : Bertemu Gadis, Bujang Lantunkan Pantun


Menelisik Tradisi Begareh di Masa Lalu
Begareh merupakan sebuah tradisi yang sudah melekat dengan kehidupan masyarakat Besemah dari dulu sampai sekarang. Namun tradisi begareh di masa lalu dengan era digital seperti sekarang berbeda jauh. Begareh di masa lalu komunikasi antara bujang dan gadis dijembatani oleh pantun. Masih ada batasan yang tegas antara bujang dan gadis.
————————————————
TULISAN yang termuat dalam kertas itu awalnya diperuntukkan sebagai tugas akhir mahasiswa tingkat sarjana: skripsi. Namun pada akhirnya tujuan penulisan itu tidak kesampaian. Kendati tulisan itu masih sangat bermanfaat.




Apalagi tulisan itu mengupas tentang adat pergaulan muda-mudi di Besemah.
“Tentang begareh,” ujar Asmadi, kepada Pagaralam Pos di Sekretariat Forum Pecinta Alam (FORPA) Besemah, Kamis malam (3/8), tentang beberapa tema tulisan yang termuat dalam puluhan halaman itu. Mady Lani -demikian nama pena Asmadi- merupakan salahseorang di balik tulisan itu.




Bersama rekannya Mady melakukan penelitian tentang adat pergaulan muda-mudi Besemah dengan metode wawancara, yang dimulai dari begareh. Adapun narasumbernya adalah seorang tokoh masyarakat di sebuah desa di kecamatan Kota Agung, Kabupaten Lahat pada 2002 lalu. “Karena suatu dan lain hal, hasil wawancara ini tidak dijadikan skripsi. Hanya jadi bahan untuk skripsi,” ucap Mady tentang musabab penelitian tersebut tak jadi skripsi.




Toh, bagi Mady tidak jadi sebuah skripsi bukanlah suatu hal yang mengecewakan. Baginya hasil wawancaranya itu sudah tertuang dalam tulisan-tulisan yang bisa dibaca banyak orang. Dari hasil wawancaranya itu Mady dan rekannya menyimpulkan bahwa tradisi begareh atau beghusek di Besemah sudah ada sejak dulu. Begareh sendiri dapat diartikan sebagai aktivitas seorang bujang datang ke rumah gadis dengan tujuan berkenalan.




Akan tetapi pola begareh antara masa lalu dengan yang sekarang sudah berbeda. “Kami membagi dua periode. Periode pertama dari 1900 – 1970, kedua dari 1970 – sampai sekarang,” papar Mady tentang periodesasi begareh di Besemah. Namun yang menarik dibahas bagi Mady, adalah begareh di periode 1970 ke bawah. Sebabnya kata ia, di masa itu begareh masih dilakukan dengan penuh tata krama. Juga masih ada batasan tegas antara bujang dan gadis.




Ia menyebutkan, saat akan begareh ke rumah gadis, rombongan bujang akan bersiul, meringit, atau betembang. Itu merupakan sebuah isyarat bagi pemilik rumah. Isyarat dari bujang ini kata Mady akan disambut dengan deheman oleh bapak sang gadis. Ini merupakan tanda bahwa bapak sang gadis masih di dalam rumah. “Kalau bapak gadis sudah ke luar rumah, itu berarti bujang dipersilakan untuk begareh dengan gadis itu,” tutur Mady. “Tapi tetap ada syaratnya. Gadis diawasi oleh ibu atau neneknya,” katanya pula.




Adapun tatacara begareh dimulai ketika bujang mengetuk pintu dengan mengucapkan: “Ibung-ibung numpang beghusek”. Dijawab oleh ibu si gadis:
“Sape titu?” “Kami ibung. Kalu pacak kami nak numpang beghusek,” ucap rombongan bujang. Ibu si gadis lalu bertanya asal bujangan itu. “Kami kisan di jauh ibung”. “Ame luk itu tunggu kudai ceh,” kata ibu si gadis.
Setelah terjadi dialog itu, ibu itu menyuruh anak gadisnya untuk berdandan sekedarnya. Si gadis lalu disuruh menemui bujangan yang ingin beghusek tadi.




Selama pertemuan ini pintu di rumah itu dibiarkan terbuka, untuk menghindari pelanggaran adat pergaulan. Antara gadis dan bujangan pun duduk berjauhan. Ditambah lagi pertemuan ini tetap diawasi dengan ketat oleh ibu si gadis.




Selama pertemuan itu kata Mady, gadis dan bujang tidak mengungkapkan kata-kata dengan secara langsung. Mereka menyusun ungkapan kata hatinya melalui sebuah pantun. Bujang berpantun, gadis menjawab dengan pantun pula. (Lihat tabel pantun antara bujang dan gadis). Selain pantun, lanjut Mady, bujang dan gadis itu melanjutkan pembicaraan lewat kertas yang sudah ditulis. Ini kemudian disebut dengan istilah merekis. Kertas dari gadis dilemparkan kepada bujang, demikian pula sebaliknya.




Anggota Lembaga Adat Besemah, Satarudin Tjik Olah mengatakan, ketika begareh pantun merupakan sarana komunikasi antara bujang dan gadis. “Kata-kata tidak diucapkan secara langsung,” ujar Satar ketika dihubungi Pagaralam Pos lewat sambungan telepon seluler. Pantun lanjut dia, tidak disusun terlebih dahulu. Akan tetapi langsung dibuat ada saat pertemuan itu juga. Ini dimungkinkan, lantaran di zaman dulu pantun merupakan sebuah keterampilan yang harus dikuasai anak muda. Tapi diakuinya, begareh dengan sarana pantun itu hanya terjadi di masa lalu. Adapun begareh di masa sekarang, Satar menyatakan sudah jauh berbeda.




Jika dipadankan, Satar menganggap begareh memiliki makna dengan pendekatan. Ini merupakan tahap awal pertemuan antara bujang dan gadis menuju tahap yang lebih serius lagi, yakni pernikahan. “Belum sampai ke tahap nceteka rasan. Sebab bujang dan gadis baru berkenalan,” tuturnya.




Mady Lani mengatakan, masih ada proses lain sebelum menuju jenjang pernikahan yang mentradisi dalam masyarakat Besemah zaman dulu. Proses itu adalah berayak, nyemantung, ngulangi rasan, nueghi rasan, nepik duit, melaghikah, ngampak simah, dan pelaksanaan pernikahan. “Tahapannya terstruktur. Kalau diulas akan panjang,” pungkas Mady lantas tertawa berderai.




Meskipun proses begareh itu terjadi di masa lalu, namun bukan berarti anak-anak muda di zaman sekarang tak pernah melihatnya. Wahyu (16), seorang pelajar sebuah SMA ini mengaku pernah melihat proses begareh antara bujang dengan gadis di sebuah rumah. “Melihatnya memang sedikit lucu. Tapi begitulah rupanya tata cara beghusek di masa lalu,” ujarnya.




Sementara, Danang (25), warga Talang Kelapa, Kelurahan Tumbak Ulas, Kecamatan Pagaralam Selatan mengaku, jika di daerah tempat tinggalnya, tidak ditemukan lagi adanya adat istiadat begareh. Hal ini lantaran perkembangan zaman, yang terus menggusur adat istidat khas Besemah tersebut.




“Dulu ada, tapi tidak tahu secara pasti tahunnya, sekarang ini tidak ada lagi, muda-mudi sudah sibuk dengan urusan masing-masing, bermain Hp, hiburan kumpul-kumpul atau nongkrong biasa, termasuk buat dekorasi bersama. Ramainya pun beda dengan adat begareh, jadi selaku pemuda kita prihatian, kalau budaya begareh ini sampai hilang, kita ingin pemerintah dapat lebih memperhatikan adat istiadat ini,” harapnya.




Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Pagaralam Drs Marjohan Derah MPd melalui Pamong Budaya Aryo mengungkapkan, budaya adat istiadat begareh, memang patut untuk terus dilestarikan. Ini sudah menjadi tugas bersama, termasuk para generasi muda penurus di Kota Pagaralam.
“Sejauh ini, budaya begarehan masih banyak dilakukan masyarakat, terutama berada di kawasan pedusunan, seperti di daerah Pematang Bange, Kelurahan Churup Jare, begitu juga Dusun Selibar, Kelurahan Selibar dan masih banyak daerah lainnya. Karena itu, kita mengajak para generasi untuk terus melestarikannya,”pungkas Aryo. (11/09/CE-V)

Pantun Antara Bujang dan Gadis dalam Begareh Tempo Dulu
Gadis:
Selayak burung lempipi
Menarap aban keputihan
Dengah berayak ke dusun ini
Tuape batan peghulihan

Dijawab oleh bujang:
Selayak burung lempipi
Manarap jantung keputihan
Kami berayak ke dusun ini
Ade mbak gunung peghulihan

Mendengar balasan pantun dari bujangan itu, biasanya gadis akan mengatakan: “Kicikkah dikit ceh, empuk denga dek setuju gulai”.

Maka bujangan akan menjawab:
Lah lame tebu dikubak
Bemban lah lame diampaikah
Lah lame ghindu diantak
Ribang lah lame ndak disampaikah

(Sumber: Mady Lani dalam Adat Pergaulan Muda-mudi Besemah)

Previous 8 Spot Instagramable Ini, Bikin Wisatawan Makin Cinta Pagaralam
Next Keratuan Besemah : Punya 17 Ratu, Tigakali Pindah Ibukota