Atung Bungsu di Komering, Serunting di Ranau


PAGARALAM POS, Pagaralam – Makam puyang (leluhur) besemah di Pagaralam memang tak sedikit. Namun, dari sekian banyak makam itu, hanya sedikit yang merupakan kuburan asli. Sebagian besar makam puyang itu adalah sekedar tapak alias tanda.




Anggota Lembaga Adat Besemah, Satarudin Tjik Olah, menyatakan, makam puyang di Pagaralam tersebar di berbagai titik. “Sangat banyak. Tapi, untuk jumlah persisnya, kami belum sempat melakukan pendataan,” ujar Satar, dijumpai Pagaralam Pos, di kediamannya, kemarin, (17/2).




Satar menyebutkan, sebagian besar makam puyang yang ada di Pagaralam merupakan tanda atau pengingat saja. Sedangkan kuburan aslinya berada di luar Pagaralam. Ia lantas mencontohkan makam Puyang Atung Bungsu, berada di dusun Benua Keling, Kecamatan Dempo Selatan. “Kalau jenazah aslinya dikubur di Desa Muara Selabung. Kabupaten OKU Timur,” ungkap Satar.




Dijelaskan, informasi mengenai kuburan Atung Bungsu di Desa Muara Selabung didapat dari cerita turun temurun. Apalagi cerita itu berasal dari para jurai tue. “Jurai tue biasanya memiliki cerita itu. Bahwa makam Puyang Atung Bungsu itu (di Benua Keling) hanya sekedar tapak. Jenazah Atung Bungsu sendiri dikubur di Muare Selabung,” tuturnya.




Mengapa Atung Bungsu bisa berkubur di luar Pagaralam? Berdasarkan cerita yang didapat Satar, disebutkan Atung Bungsu pergi ke Muara Selabung guna melihat anak keduanya. Nama anak kedua Atung Bungsu itu adalah Riye Rekehan yang memang membuat pemukiman di Muare Selabung. “Saat di Muara Selabung, Atung Bungsu sakit. Lau meninggal dan dikubur di sana,” tutur Satar.




Di besemah lanjut Satar, anak tertua Atung Bungsu, yakni Ratu Diwate sedih hatinya. Dia pergi ke Muara Selabung. Ratu Diwate mengambil sebongkah tanah dari kuburan Atung Bungsu lantas membawanya pulang ke besemah. Dengan bekal sebongkah tanah itulah, Ratu Diwate membuat makam puyang Atung Bungsu. Lokasinya di Benua Keling.




“Membuat Makam Puyang Atung Bungsu tidak dilakukan sembarangan. Tapi melalui upacara khusus dengan menyembelih seekor kerbau,”kisah Satar. Sampai sekarang, makam Puyang Atung Bungsu masih ada di dusun Benua Keling.




Selain Atung Bungsu, masih ada puyang-puyang lain yang jasadnya dikuburkan di luar besemah. Menurut Satar, jasad Puyang Serunting Sakti sejatinya dikubur di tepi Danau Ranau, Kabupaten OKU Selatan. Karena itu diakui Satar, makam puyang Serunting yang ada di Pagaralam, itu adalah tapak atau tanda semata.




Soal posisi kuburan Serunting Sakti yang ada di tepi Danau Ranau, lanjut Satar, terkait dengan peristiwa duel hidup mati. Yakni antara Serunting Sakti dengan Mata Empat. Dua puyang yang dikenal memiliki kemampuan tinggi bertarung di tepi Danau Ranau. “Akhirnya, Serunting Sakti dan Mata Empat meninggal di tepi Danau Ranau. Sampai sekarang kuburan mereka masih ada di sana,




Selain Atung Bungsu dan Serunting Sakti, jenazah Puyang Panggar Besi pun sesungguhnya berkubur di Lubuk Sele, seberang kecamatan Tanjung Tebat, Kabupaten Lahat. Namun, oleh anak-cucunya, dibuatlah makam Puyang Panggar Besi. Lokasinya ada di mana-mana misalnya di kecamatan Tanjung Sakti.




Agar Selalu Diingat
Mengapa harus dibuat makam? Dijelaskan Satar, pembuatan makam-makam puyang itu dilakukan untuk mengenang. Agar anak cucu dan keturunan puyang bersangkutan tidak lupa. “Supaya puyang-puyang tersebut tidak dilupakan. Terus diingat oleh para keturunannya,” jawab Satar.




Meskipun begitu, di Pagaralam ada makam puyang yang bukan sekedar penanda. Masih ada makam puyang yang memang berisikan jenazah puyang. Disebutkannya, makam Puyang Depati di dusun Keban Agung.




“Dulunya, Keban Agung itu adalah pusat pemerintahan besemah. Namanya dulu Sawah Batuan. Jadi, beberapa puyang dulu memang bermukim dan meninggal di sana,” terang Satar mengenai lokasi makam Puyang Depati.




Contoh lainnya adalah makam Puyang Burung Dinang, di Dusun Tanjung Keling, Kecamatan Dempo Utara. Satar menyebutkan, di sanalah jenazah Puyang Burung Dinang dikuburkan. “Sebab, di sanalah Burung Dinang dulu bermukim. Jadi, kuat dugaan, makam itu bukan sekedar tanda,”




Ditemui Jum’at pekan lalu, pemerhati budaya Besemah, Mady Lani, menyatakan, dirinya bersama rekan-rekannya sering melaksanakan observasi langsung ke makam-makam puyang.




“Kami namakan ekspedisi makam-makam puyang,”ujar Mady. Dari hasil observasi itu lanjut Mady, pihaknya mendapati bahwa sebagian besar makam puyang yang ada di Pagaralam masih cukup terawat. “Yang paling sering itu kami berkunjung saat malam hari. Dengan begitu, suasana kesejarahannya lebih terasa,” imbuh Mady.




Mumpuni dan Dihormati Beragama Samawi
Tak sembarang orang disebut dengan puyang. Menurut anggota Lembaga Adat Besemah, Satar, puyang berasal dari kata mpu dan hyang.




Mpu terang dia berarti mumpuni, sedangkan hyang artinya dihormati. Dengan demikian, kata dia, puyang bisa dimaknai sebagai orang yang mumpuni sekaligus dihormati. “Jadi, kalau ayahnya ayah saya, itu bukan puyang namanya,” ujar Satar.




Apa agama para puyang itu? Satar menyebutkan, bahwa agama yang dianuat oleh para puyang adalah samawi, yakni agama yang dibawakan Nabi Adam As. “Islam, tapi syariatnya tak seperti yang dibawa Nabi Muhammad SAW,” jawab Satar.




Dia lantas memberikan bukti. Kata Satar, sebagian besar makam puyang di besemah menghadap ke arah kiblat. Namun lanjut dia, kiblat kuburan para puyang itu belum mengarah ke arah Ka’bah Mekkah. Melainkan ke arah Masjid Aqso, di Palestina.




Pemerhati Budaya Besemah, Mady Lani punya pendapat lain. Ketiak dijumpai Pagaralam Pos, Jum’at pekan lalu, Mady memperkirakan, agama para puyang lebih condong ke arah dinamisme dan animisme. (11)

Previous Lewat Tadut, Islam masuk ke Besemah
Next Kata-kata Besemah Baghi Mulai Dilupakan